Papua Merdeka News

Papua, Irian Jaya, Western New Guinea News Feeder

Telp:+675-78213007 (WA)
Email: tofreemalensia@gmail.com
Mail. Mail: 635 Vision City, NCD, POM,Papua New Guinea
Showing posts with label Eco Terror. Show all posts
Showing posts with label Eco Terror. Show all posts

Thursday, 8 August 2013

PT Mayora Gunakan Brimob dan Stigma OPM Paksa Suku Woyu Tandatangani Proyek Mifee

Jayapura, 07/02 (Jubi) – Forum Intelektual kelompok sub etnis Woyu Maklew, Merauke, menyatakan PT Mayora telah melanggar hak-hak masyarakat adat Marind, Woyu Maklew. 

Melalui siaran pers yang diterima Jubi, Rabu (o7/08), kelompok sub etnis Woyu Maklew di Merauke menyampaikan bahwa Tetua Adat dan kepala desa Woyu Maklew telah dipaksa untuk menandatangani sebuah dokumen yang diajukan oleh PT Mayora, salah satu perusahaan yang akan beroperasi dalam skema Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE). Kedua pemuka Kampung tersebut menandatangani dokumen itu karena diancam akan disebut sebagai anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM). Beberapa orang kampung yang didukung perusahaan teah digunakan untuk meneror warga lainnya agar menerima kehadiran PT Mayora di kampung Yowid, Dokib, Wamal, Bibikem, Woboyu, Wanam dan Dodalim. 

Ambrosius Laku Kaize, Tetua adat Kampung Yowid, mengakui ia dipaksa untuk menandatangani dokumen setelah ditekan staf PT Mayora. “Saya dipaksa untuk menandatangani, karena desa Kampung Yowid telah dituduh sebagai anggota OPM,” kata Ambrosius Kaize. Ambrosius Kaize menjelaskan bagaimana dia, kepala desa administratif dan kepala klan  Geb-Zami semua telah diintimidasi setelah PT Mayora yang mengatakan bahwa masyarakat Kampung Yowid akan dianggap OPM jika mereka tidak menandatangani surat dari perusahaan tersebut.

Pemantauan yang dilakukan oleh Forum Intelektual kelompok Sub-etnis Woyu Maklew mengungkapkan bahwa orang Marind di kampung Yowid, Dokib, Wamal, Dodalim, Woboyu, Bibikem, Wanam dan Uliuli belum menerima informasi yang dapat dipercaya dan jujur tentang kebijakan apapun atas investasi di tanah leluhur mereka secara umum, dan sekitar kehadiran PT Mayora pada khusus. Ini merupakan indikasi bahwa proses investasi sudah melanggar hak masyarakat adat Marind untuk menerima informasi tanpa paksaan sebelum kegiatan investasi dimulai. 

Selain itu, orang Marind dari kelompok sub-etnis Woyu Maklew telah menyatakan bahwa mereka menentang semua investasi di tanah leluhur mereka, karena mereka tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan. 

PT Mayora juga disebutkan telah merusak keamanan dalam kehidupan masyarakat setempat, dengan berkeliling kampung dikawal oleh Brimob bersenjata lengkap dari Kepolisian Resort Merauke. Tindakan perusahaan ini telah menabur rasa takut pada masyarakat di kampung Yowid, Dokib, Wamal, Dodalim, Woboyu, Bibikem, Wanam dan Uliuli. (Jubi/Victor Mambor)

Thursday, 15 July 2010

HIV-AIDS Ancam Usia Produktif di Papua!

Gubernur Suebu Launching Kampanye HIV di Papua Tahun 2010

JAYAPURA-Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, SH, mengatakan penyebaran virus HIV-AIDS di Papua sudah menyebar ke populasi masyarakat umum dan terbanyak penyebarannya di usia antara 15-49 tahun atau usia produktif.''Jumlah kasus terbanyak ditemukan pada usia 20-29 tahun sebanyak 2251 kasus yang merupakan usia kerja dan angkatan kerja. Usia ini dalam ancaman, bila tidak ada usaha-usaha pencegahan dan penanggulangan yang efektif dan terkoordinir dengan maksimal. HIV-AIDS sekarang jadi ancaman serius bagi Papua,''ungkap Gubernur Suebu saat launching Kampanye HIV di Papua untuk tahun 2010, di Jayapura, Senin (12/07).

Program kampanye ini didukung juga melalui program Kemitraan Australia Indonesia ( Autralia Indonesia Partnership).

Gubenur Suebu menjelaskan, jumlah pengidap HIV-AIDS di Papua saat ini 4967 kasus, diantaranya HIV 2565 kasus dan AIDS 2405 kasus. Dari jumlah tersebut 402 diantaranya sudah meninggal dunia.
Hasil survey terpadu HIV dan perilaku (STHP) yang dilaksanakan BPS (Badan Pusat Statistik) dan Depkes 2006 melaporkan bahwa epidemic HIV di Propinsi Papua dan Papua Barat telah memasuki populasi umum yakni menyebar ke 2,4 % populasi masyarakat umum dewasa usia 15- 49 tahun.

''Hal ini menunjukkan bahwa tingkat penularan HIV di Tanah Papua jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah lain di Indonesia,'' ujar Suebu.

Suebu mengajak seluruh elemen di Papua untuk terlibat dalam upaya pencegahan penyebaran HIV-AIDS salah satunya menghindari zina dan hubungan seks di luar nikah. Dan penanganan virus ini harus melibatkan semua komponen masyarakat tanpa terkecuali.Terkait dengan pelaksanaan kampanye itu, tidak terlepas dari strategi komunikasi untuk penanggulangan HIV-AIDS, yakni kampanye multimedia yang melibatkan berbagai saluran komunikasi dan berbagai bentuk media serta menggunakan beberapa pendekatan yang saling bersinergis, yaitu komunikasi untuk perubahan perilaku, advokasi, dan penggerakan masyarakat.

Kampanye ini, mengusung tema, "Kitorang pengaruh, mari bertanggungjawab untuk HIV. Yang maknanya, HIV-AIDS adalah masalah tanggungjawab semua orang yang ada di Papua dalam hal ini berperan aktif, bertindak, dan mengambil tanggungjawab dalam penanggulangan HIV-AIDS di Papua.

Ada 4 hal yang ingin dicapai dalam kampanye ini, yakni, penundaan seks dini dan pengurangan jumlah pasangan seks, ajakan periksa atau tes HIV dan periksa infeksi menular seksual (IMS), peningkatan penggunaan kondom pada setiap kegiatan seks beresiko dan mempromosikan kondom sebagai sarana pelindung kesehatan, dan pengurangan stigma dan deskriminasi terhadap orang hidup dengan HIV-AIDS.
"Harapan kita agar kampanye ini memiliki gema luar biasa di masyarakat dan mampu mendorong masyarakat untuk melakukan perubahan perilaku. Kita harus bisa memutuskan mata rantai penularan HIV dan ini tidak bisa ditunda lagi. Mari selamatkan generasi muda Papua dari HIV-AIDS," tandasnya.

Sementara itu, Ketua KPAD Provinsi Papua drh. Constan Karma menandaskan, kampanye pencegahan penyebaran HIV-AIDS di Papua dalam tahun 2010 difokuskan ke kaum lelaki. Alasannya, orang laki-laki memiliki peran dominan dalam penyebaran HIV-AIDS selama ini.

' 'Perbedaan kampanye HIV-AIDS tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini

difokuskan ke para lelaki, karena lelaki yang lebih dominan dalam terjadinya hubungan seksual, sementara 90 persen penyebaran HIV-AIDS di Papua karena hubungan seks,'' jelas Ketua KPAD (Komisi Penanggulangan AIDS Daerah) Provinsi Papua Constant Karma kepada wartawan di Jayapura, Senin (12/7) saat launching kampanye HIV-AIDS di Papua 2010.

Menurut Karma, laki-laki kategori 3 M (mobile men with money) di Papua memiliki kontribusi tinggi terhadap peningkatan laju pertumbuhan HIV di Papua. Dan ini terjadi pada semua tingkatan, terutama mereka yang memilikin uang dan selalu berpergian ke luar rumah.

"Laki-laki 3 M ini memiliki mobile, atau sering bepergian, punya money banyak dan dominan dalam membuat keputusan melakukan hubungan seks, sehingga itu yang menjadi sasaran kampanye untuk mengurangi penyebaran HIV tahun ini,'' jelas.

Acara lauching Kampanye HIV tahun 2010 yang digelar kemarin, diawali dengan doa oleh 5 wakil pemuka angama dari Kristen, Katholik, Islam, Hindu dan Bunda. Setelah itu, pementasan drama singkat tentang kondisi rentan terjadinya HIV dalam keluarga dan lingkungan, kemudian dilanjutkan dengan sambutan gubernur sekaligus melaunching kampanye HIV tahun 2010 yang ditandai dengan pemukulan tifa. Usai acara Launching, Gubenur menyerahkan kunci 1 unit mobil kampanye kepada Pemkab Jayawijaya yang diterima Bupati Jayawijaya Wempi Wetipo. Acara ditutup dengan meninjau pameran kampanye HIV-AIDS di bagian depan gedung negara.

Acara Launcing Kampanye HIV tersebut diikuti oleh Muspida Provinsi Papua, para kepala SKPD Provinsi Papua, tokoh masyarakat dan tokoh adat, pemuka agama, tokoh perempuan, pimpinan media, LSM, dan stakeholder lainnya. (luc/nls)

Posted via email from SPMNews' Posterous