Papua Merdeka News

Papua, Irian Jaya, Western New Guinea News Feeder

Telp:+675-78213007 (WA)
Email: tofreemalensia@gmail.com
Mail. Mail: 635 Vision City, NCD, POM,Papua New Guinea
Showing posts with label Intan Jaya. Show all posts
Showing posts with label Intan Jaya. Show all posts

Tuesday, 27 October 2020

Keuskupan Timika benarkan Rafinus Tigau adalah seorang pewarta gereja Katolik

 Reporter: Victor Mambor

Rafinus Tigau semasa hidupnya - IST

Jayapura, Jubi – Seorang pewarta gereja Katolik, Senin (26/10/2020) tewas tertembak oleh aparat keamanan Indonesia yang bertugas di Intan Jaya. Selain pewarta gereja bernama Rafinus Tigau ini, seorang anak bernama Megianus Kobagau terluka karena rekoset peluru yang ditembakan aparat keamanan.

Pastor Marten Kuayo, Administrator Diosesan Keuskupan Timika membenarkan kejadian yang menewaskan Rafinus ini.

“Benar, saya baru dapat laporan dari Pastor Paroki Jalae bahwa Rafinus meninggal karena ditembak. Dia dituduh sebagai anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB). Tidak benar itu. Rafinus sudah sejak lama menjadi pewarta gereja Katolik di Jalae,” kata Pastor Marthen kepada Jubi, Senin (26/10/2020).

Seorang warga Sugapa yang dihubungi Jubi mengatakan jenazah Rafinus ditemukan dekat rumahnya sudah dikubur dalam sebuah lubang dengan ditutup daun pisang.

“Aparat TNI Polri sudah berada di Jalae sejak jam 5.00 pagi. Katanya mereka mau kejar TPNPB. Tapi TPNPB sudah jauh dari kampung. Kita dengar bunyi tembakan saja. Kita tidak tau siapa yang dapat tembak. Setelah bunyi tembakan tidak ada baru kita cek keluar rumah. Kita baru sadar Rafinus tidak ada. Jadi kita cari, ternyata dia dikubur dalam lubang yang ditutupi daun pisang,” kata warga Sugapa ini.

Terpisah, parat keamanan yang melakukan penyisiran di Jalae mengatakan Rufinus adalah anggota Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) sebutan mereka untuk Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB).

“Ini merupakan hasil pengembangan pasca penghadangan TGPF oleh KKSB 9 Oktober lalu. Dari hasil pengembangan dan pengumpulan informasi dari masyarakat diperoleh informasi akurat bahwa salah satu kelompok KKSB bermarkas di Kampung Jalae Distrik Sugapa,” kata Kepala Penerangan Kogabwilhan III, Kol Czi IGN Suriastawa.

Operasi, menurut Suriastawa dimulai pukul 05.30 WIT oleh Tim Gabungan TNI-Polri. Selain menembak Rapinus, operasi ini  mengamankan dua orang lainnya, yang salah satunya mengaku adik dari Rafinus Tigau.

Suriastawa juga mengatakan atas permintaan pihak keluarga, korban tewas dikubur di tempat. Tim Gabungan TNI Polri membantu menggali kubur dan saat pemakaman, pihak keluarga mengakui bahwa korban selama ini aktif dalam aksi KKSB.


Namun warga Sugapa yang dihubungi Jubi mengatakan tidak ada warga yang tahu penembakan Rafinus hingga jenazahnya ditemukan dalam lubang yang ditutupi daun pisang.


Suriastawa mengakui dalam operasi ini seorang anak bernama Megianus (6 tahun) mengalami luka di bagian pinggang kiri akibat rekoset. Megianus kemudian dievakuasi ke Bandara Bilogai, Intan Jaya untuk selanjutnya dibawa ke Timika untuk perawatan medis lebih lanjut.

“Ia didampingi 2 orang keluarganya,” kata Suriastawa.

Sebby Sambom, Juru Bicara TPNPB mengatakan pernyataan Suriastawa itu sebagai kebohongan yang dibangun untuk menutupi sorotan publik. Sebby mengatakan saat penembakan Pendeta Zanambani, Suriastawa juga menuding Pendeta Zanambani sebagai anggota TPNPB.

“Faktanya, terungkap dengan jelas bahwa yang mereka tembak itu tokoh agama, seorang pendeta. Begitu juga penembakan yang mereka lakukan pada seorang katekis paska penembakan Pendeta Zanambani,” kata Sebby.

Sebby menegaskan, ia sudah memeriksa ke Intan Jaya dan tidak ada angggota TPNPB di Intan Jaya yang bernama Rafinus Tigau. (*)

Friday, 16 October 2020

Pansus Sebut Nama Pelaku Penembakan Pendeta Yeremia Zanambami.

Anggota PANSUS DPRP Kasus Penembakan di Intan Jaya

Pansus DPR Papua saat melakukan jumpa pers hasil kunjugan ke Intan Jaya, di Hotel Horison, Jumat, (09/10).

Panitia Khusus (Pansus) DPRD Papua mengungkap nama penembak pendeta Yeremia Zanambami di Intan Jaya, Papua.

Anggota Pansus Deki Nawipa mengatakan, nama penembak Pdt Yeremia Zanambami didapat dari pengakuan keluarga korban.

Ia mengatakan, keluarga korban menyebutkan bahwa pendeta Yeremia Zanambani ditembak oleh anggota Kostrad 477 atas anama Alpius.

Deki Nawipa menyebutkan, ada beberapa anggota yang sering bersama dengan almarhum sudah dianggap sebagai keluargga. Tapi pada peristiwa itu, korban Yeremia Zanambami ditembak.

“Mama atau istri almarhum waktu kami tanya siapa itu pembunuh bapak, ia langsung mengatakan yang bunuh atas nama Alpius dari satuan Kostrat 477,” ucap Deki.

“Jadi entah mau ungkap atau tidak, ini kami sampaikan sesuai dengan data yang kami ambil langsung di lapangan, dan istri almarhum langsung tunjuk kalau ‘kau Alpius ko yang bunuh’, kalau tidak percaya kami punya data tertulis dan video dan kami pansus siap bertungjawab,” tambahnya.

Kata dia, kehadiran Pansus mewakili Pemerintah Provinsi Daerah dan Pusat. Ia mengklaim masyarakat Intan Jaya sangat berharap keadilan karena mereka sudah tahu siapa pelaku penembakan.

“Kami melihat persoalan HAM dari tahun 1960 sampai dengan saat ini tidak bisa terungkap karena lebih memproteksi institusi tidak pada pelakunya, maka jika ingin menyelesaikan masalah dan tidak tercoreng nama baik negara dan konstitusi harus ungkap pelakunya,” terangnya.

Dikatakan Deki, meski banyak tim yang dikirim ke Intan Jaya, tapi kalau tidak menyentuh substansi masalah terkait pelanggaran HAM, tidak akan menyelesaikan persoalan.

“Persoalan ini tidak akan selesai dan nama baik instisusi dan negara dan lainnya akan tercoreng,” katanya.

Pansus memberikan beberapa rekomendasi kepada pemerintah daerah dan aparat. Intinya, Pansus meminta segera mengungkap pelaku penembakan.

Pansus juga merekomendasikan agar rencana drop pasukan dari Maluku harus dihentikan sebelum melakukan pengungkapan kasus penembakan pendeta Yeremia Zanambami.

“Pengiriman pasukan harus dijentikan sebelum penyelesaian masalah. Jika tidak, masyarakat akan merasa terancam dan mereka merasa kehadiran aparat sebagai musuh, ini rekomendasi kami,” katanya

Sunday, 4 October 2020

Ada TGPF kasus Hitadipa Intan Jaya, lalu Nduga bagaimana?

Jayapura, Jubi – Kapan pemerintah membentuk TGPF Nduga? Mungkinkan TGPF Intan Jaya juga menyelidiki kasus Nduga? Hal itu dilontarkan tokoh pemuda Kabupaten Nduga, Samuel Tabuni dalam rilis yang disampaikan kepada Jubi, Sabtu (3/10/2020).


“Hanya dalam kurun 14 hari setelah peristiwa Hitadipa, TGPF ini sudah terbentuk. Ini suatu langkah cepat, yang memang sangat dibutuhkan untuk mengungkap kasus Hitadipa. Lalu bagaimana dengan Nduga yang sudah hampir dua tahun?” tanya dia.

Tabuni mengaku sangat mengapreasi keputusan pemerintah membertuk tim investigasi yang disebut sebagai Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) atas kasus pembunuhan seorang Pendeta di Hitadipa, Intan Jaya.

Namun ia juga sangat berharap pemerintah juga harus adil dalam keputusannya terkait pembentukan TGPF itu. “Apa yang salah ketika tugasnya diperluas? Tidak hanya berfokus pada persoalan Hitadipa saja, tapi sebaiknya persoalan Nduga juga harus menjadi bagian dari perhatian dan tugas TGPF,” kata Samuel yang juga anggota TGPF Hitadipa.

Persoalan Nduga sudah hampir 2 tahun terbengkalai. Pemerintah tidak memberikan perhatian secara serius untuk membentuk tim investigasi seperti TGPF Hitadipa. 

Padahal pembunuhan dan penyiksaan terhadap warga sipil termasuk para hamba Tuhan dalam kasus Nduga juga banyak terjadi. Kasus terakhir terjadi pada pekan lalu di distrik Mbulmu Yalma. Menurut Tabuni pekan lalu ada aparat TNI yang menembak mati dua aparat kampung.

“Tim pencari fakta sedang bergerak ke tempat kejadian karena mayat mereka tidak ditemukan,” katanya.


Enembe : Pemerintah Provinsi Papua akan bentuk tim kemanusian untuk Intan Jaya

 TabloidJubi -Jayapura, Jubi – Gubernur Papua, Lukas Enembe mengatakan pemerintah Provinsi Papua akan membentuk tim kemanusiaan untuk membantu masyarakat Intan Jaya menghadapi permasalahan yang dihadapi belakangan ini. Tim ini menurut Gubernur Enembe akan terdiri dari beberapa unsur, diantaraya pemerintahan, masyarakat sipil dan gereja.


“Penembakan pendeta Zeremia Zanambani harus diinvestigasi. Namun bukan hanya itu, masalah yang dihadapi oleh masyarakat Intan Jaya belakangan ini sangat berat. Kekerasan demi kekerasan terjadi di Intan Jaya. Ini hampir sama dengan saat saya menjadi bupati di Puncak Jaya,” kata Gubernur Enembe kepada Jubi, Jumat (2/10/2020).

Menurut Gubernur Enembe, pemerintah daerah harus membantu masyarakat Intan Jaya menghadapi trauma kekerasan yang dialami.

“Dalam waktu dekat ini tim kemanusiaan untuk Intan Jaya akan dibentuk. Saat ini saya sedang berkoordinasi dengan Karo Hukum untuk membuat SK nya,” jelas Gubernur Enembe tanpa merinci lebih jauh terkait tim kemanusiaan yang akan dibentuk.

Terpisah, Ketua Sinode AM GKI Papua Pendeta Andrikus Mofu menanggapi tim investigasi kasus penembakan Pendeta Zeremia Zanambani yang dibentuk Menko Polhukam, Mahfud MD.

Ia yakin bahwa masyarakat Papua tidak percaya dengan tim investigasi yang dibentuk Menko Polhukam.

“Saya hari ini yakin bahwa masyarakat Papua pasti tidak yakin oleh tim investigasi yang dibentuk oleh Menko Polhukam dapat mengungkapkan secara adil dan baik transparan dan jujur,” kata Mofu dalam diskusi publik yang diadakan oleh Amnesty International Indonesia dengan judul “Mengulas Tim Investigasi Independen Penembakan Hitadipa”, Jumat (2/10/2020).


Monday, 27 January 2020

Baku Tembak dengan Aparat, 1 Anggota KKB di Papua Tewas

Kristian Erdianto, https://www.msn.com/

© Disediakan oleh PT. Kompas Cyber Media Kepala Bagian
Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri
Kombes Pol Asep Adi Saputra di Gedung Humas Mabes Polri,
Jakarta Selatan, Jumat (23/8/2019).
JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra menyebut telah terjadi kontak senjata antara TNI-Polri dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kampung Jupara, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua.

Baku tembak terjadi pada Minggu (26/1/2020).

"Kejadian ini benar terjadi pada hari minggu yang lalu tanggal 26 Januari pada pukul12.08 Waktu Indonesia Timur dari kontak senjata ini," kata Asep di Gedung Bareskrim Mabes Polri, Senin (27/1/2020).
Asep mengatakan, dalam baku tembak itu satu anggota KKB tewas.

Selain itu, ada satu anggota KKB yang diserahkan warga ke aparat keamanan.

"Satu meninggal dari kontak senjata itu dari kelompok kriminal bersenjata dan satu lagi diamankan oleh masyarakat lalu diserahkan pada pihak aparat keamanan," ungkapnya.

"Jadi pertanyaannya saya luruskan bukan dua yang meninggal, satu meninggal dari kontak senjata itu dari kelompok kriminal bersenjata," sambungnya.

Kendati demikian, Asep memastikan situasi di Papua masih kondusif dan terkendali.

Meskipun, saat ini aparat Kepolisian masih melakukan pengejaran terhadap KKB yang melakukan baku tembak dengan aparat.

"Sampai dengan hari ini situasi di Papua masih aman terkendali dan tim gabungan TNI dan Polri masih terus melakukan pengejaran terhadap KKB," ucapnya.