Papua Merdeka News

Papua, Irian Jaya, Western New Guinea News Feeder

Telp:+675-78213007 (WA)
Email: tofreemalensia@gmail.com
Mail. Mail: 635 Vision City, NCD, POM,Papua New Guinea
Showing posts with label Mahasiswa Papua. Show all posts
Showing posts with label Mahasiswa Papua. Show all posts

Wednesday, 28 October 2020

Ketua ULMWP: Darurat Militer diberlakukan di West Papua


Pemerintah Indonesia memberlakukan darurat militer yang efektif di West Papua. Tidak ada cara lain untuk menggambarkannya.

Hari ini (27/10), para pelajar [mahasiswa] telah ditembak dengan peluru tajam, gas air mata dan dipukuli dengan tongkat oleh polisi Indonesia di Jayapura, hanya karena melakukan aksi damai. Bagaimana orang bisa ditembak dan dipukuli karena duduk di ruang publik?

Selama dua bulan terakhir, dua pekerja agama, pendeta Yeremia Zanambani dan pengkhotbah Katolik Rafinus Tigau, telah dibunuh oleh militer Indonesia. Seorang lainnya telah ditembak, dan satu lagi meninggal secara misterius. Polisi bersenjata mengintai setiap sudut West Papua, dan pasukan memaksa ribuan orang meninggalkan rumah mereka melintasi sebagian besar tanah kami. Empat puluh lima ribu orang terlantar dari Kabupaten Nduga, dan lebih banyak lagi yang mengungsi dari Intan Jaya setiap hari.

Ini adalah darurat militer di semua tempat. Anda tidak dapat berjalan melalui pusat kota di West Papua hari ini tanpa dihentikan oleh polisi, tanpa bertemu dengan pos pemeriksaan militer. Setiap demonstrasi, tidak peduli seberapa pun damai, tetap saja bertemu dengan penangkapan massal dan kebrutalan polisi - Nabire 24 September, di Universitas Cenderawasih pada 28 September, di Jayapura hari ini (27/10).

Indonesia panik karena Ketua Forum Kepulauan Pasifik (PIF) telah menyuarakan keprihatinan atas West Papua bulan ini. Indonesia dihantui oleh kata-kata Vanuatu yang dikeluarkan di Sidang Majelis Umum PBB pada bulan September. Orang Indonesia takut dengan perlawanan Hitam kami, perjuangan kami melawan rasisme, dan perjuangan kami untuk menentukan nasib sendiri. Sebuah negara demokratis yang normal tidak mengerahkan ribuan pasukan militer untuk melawan perlawanan damai; kediktatoran darurat militer melakukan itu.

Rakyat saya berteriak meminta bantuan kepada dunia. Ada pandemi ganda di West Papua: pandemi Covid-19 dan pandemi rasisme. Salah satu penyebabnya adalah coronavirus - sebaliknya militer Indonesia. Bencana medis ini diperparah dengan kelaparan dan kemiskinan pengungsian.

Sementara Menteri Pertahanan penjahat perang Indonesia, Prabowo, melakukan perjalanan ke Amerika Serikat dan Menteri Luar Negeri Indonesia mengunjungi Inggris, Indonesia menggunakan krisis Covid sebagai kedok untuk mengintensifkan operasi militer di tanah air saya.

Operasi dan penumpasan militer ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan, pelanggaran hukum humaniter internasional, dan pelanggaran hukum konflik. Represi militer dan polisi adalah satu-satunya aturan di West Papua. Inilah definisi darurat militer.

Kami membutuhkan intervensi PBB yang mendesak sekarang. Darurat militer diberlakukan di bawah pengawasan para pemimpin regional di Melanesia dan Pasifik, dan di bawah pengawasan dunia. Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia harus diizinkan masuk ke wilayah tersebut, untuk mengungkap realitas yang terjadi di West Papua. Forum Kepulauan Pasifik (PIF) dan Organisasi Negara-negara Afrika, Karibia, dan Pasifik (ACP) harus meningkatkan upaya mereka untuk mewujudkan kunjungan ini.

Berapa lama rakyat saya harus menangisi kemerdekaan sebelum dunia mendengar? Apakah 58 tahun tidak cukup?


Benny Wenda

Ketua

ULMWP


(https://www.ulmwp.org/ulmwp-chair-martial-law-is-being-impo…)

#WestPapua #Tolak_UU_OtsusPapua 

#ReferendumYes #FreeWestPapua #PapuaMerdeka

Tuesday, 27 October 2020

Breaking News: 1 Mahasiswa Ditembak, 13 Mahasiswa Lainnya Ditahan Polisi Indonesia Buntut Penolakan UU Otsus Julid II, 2021

Fully Armed Indonesian Mobile Brigage facing
West Papua Students' Peaceful Demonstration

Aksi demonstrasi damai menolak UU Otsus Papua yang dilakukan oleh Mahasiswa Papua hari ini, Selasa (27/10/2020) dihadang oleh Tentara dan Polisi Indonesia. Dan 13 orang telah ditangkap, satu orang ditembak.

Berikut Nama-nama masa aksi damai yang dapat tahan di Gapura Uncen bawah :

1. Apniel Doo

2. Jhon F Tebai 

3. Doni Pekei

4. Yabet Likas Degei

5. Meriko Kabak

6. Orgis Kabak

7. Carles Siep

8. Ones Sama

9. Yanias Mirin

10. Arkilaus Lokon

11. Kristianbus Degei

12. Laban Helukan

13. Ausilius Magai

Satu orang masa aksi atas nama : MATIAS SOO ditembak oleh pasukan keamanan Indonesia dengan senjata.

Mohon pantauan media dan advokasi!

#Mahasiswa #WestPapua #TolakUUOtonomiKhusus #Referendum #PapuaMerdeka #FreeWestPapua

Breaking News: HARI INI POLISI MENEMBAK SATU MAHASISWA UNCEN DAN LAINYA LUKA-LUKA

 #Urgeent



Dalam aksi Tolak Otsus Jilid II Di Jayapuara diwarnai dengan penembakan terhadap satu Mahasiswa atas nama Matias Suuh


Mahasiswa uncen, semester 7.


Dan Yang lain di pukul secara brutal sampi babak belur.
Info selengkapnya akan menyusul.

Thursday, 26 September 2019

Total 727 mahasiswa “eksodus” bebas, 6 jadi tersangka

Para mahasiswa eksodus Papua yang berhimpun di auditorium Uncen, Senin lalu. -OG
Papua, Jubi – Buntut dari bentrok antara aparat keamanan dan mahasiswa “eksodus” Papua di Expo Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, pada Senin (23/9/2019), sebanyak 733 mahasiswa ditangkap dan diamankan di Mako Brimob Polda Papua, di Kotaraja, Kota Jayapura, Provinsi Papua.

Semuanya tergabung dalam mahasiswa eksodus Papua yang hendak mendirikan Posko Solidaritas Pelajar dan Mahasiswa di auditorium Universitas Cenderawasih (Uncen), Senin lalu.

Menurut Koalisi Pengacara Hak Asasi Manusia (HAM) Papua yang juga sebagai Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua, Emanuel Gobay, sebanyak 726 mahasiswa sudah dipulangkan, sejak Selasa (24/9/2019), sedangkan 7 lainnya masih diperiksa intensif.

“Tujuh orang ini dibawa ke Ditreskrimum Polda Papua untuk menjalani pemeriksaan lanjutan,” katanya, di Kota Jayapura, Rabu (25/9).

Namun dari hasil pemeriksaan lanjutan, kata Gobay, enam di antaranya ditetapkan sebagai tersangka. “Satunya lagi baru menyusul dipulangkan tadi, karena tidak cukup petunjuk yang mengarahkan dirinya menjadi tersangka.”

Catatan yang diterima Jubi dari Koalisi Pengacara HAM Papua, keenam mahasiswa yang ditetapkan menjadi tersangka di antaranya, Assa Asso atas tuduhan melanggar Pasal 106 jo Pasal 87 KUHP, dan atau Pasal 110 KUHP, dan atau Pasal 14 ayat (1), (2) dan Pasal 15 UU No 1/1946, dan atau Pasal 66 UU No 24/2009, dan atau Pasal 160 KUHP, dan atau Pasal 187 KUHP, dan atau Pasal 365 KUHP, dan atau Pasal 170 KUHP ayat (1) KUHP, dan atau Pasal 2 UU No 12/1951 jo Pasal 64 KUHP.

Tersangka kedua Yogi Wenda atas tuduhan melanggar Pasal 170 ayat 2 ke (2e dan 3e) KUHP dan Pasal 212 KUHP dan atau Pasal 53 KUHP, ketiga Jembrif Kogoya alias Timi sebagai tersangka atas tuduhan melanggar Pasal 170 ayat (1) ke 2e dan 3e dan Pasal 212 KUHP.

Keempat, Abraham Dote atas tuduhan melanggar Pasal 160 KUHP dan atau Pasal 187 KUHP, dan atau Pasal 365 KUHP, dan atau Pasal 170 ayat (1) KUHP, dan atau Pasal 2 UU No 12/1951 jo Pasal 64 KUHP, kelima Elimus Bayage alias Eli atas tuduhan melanggar Pasal 170 ayat 2 ke (2e dan 3e) KUHP dan Pasal 212 KUHP, dan keenam Yandu Kogoya atas tuduhan melanggar Pasal 170 ayat 2 ke (2e dan 3e) KUHP dan Pasal 212 KUHP.

“Saat ini keenam tersangka di sel tahanan Polda Papua,” kata Gobay.

Gustaf Kawer, salah satu pengacara HAM Papua menambahkan, langkah selanjutnya untuk mengadvokasi keenam mahasiswa yang ditetapkan sebagai tersangka, kemungkinan akan diajukan praperadilan ke Kapolda Papua, tentang penangkapan dan penahanan tidak sah.

“Nanti kami diskusikan di internal tim litigasi koalisi, kemudian kami putuskan soal langkah hukum ini,” katanya.

Mahasiswa eksodus di Yalimo turut aksi

Di Kabupaten Yalimo, Provinsi Papua, para mahasiswa turut menggelar aksi, pada Selasa (24/9/2019). Mereka menuntut pemerintah daerah agar segera memulangkan rekan-rekan mereka, yang masih berada di luar Papua atau di kota studi masing-masing.

Massa berkumpul di kantor bupati Yalimo. Koordinator mahasiswa eksodus asal Yalimo, Alfons menyampaikan, mereka meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Yalimo ikut mengadvokasi dan membantu para aktivis mahasiswa yang ditahan.

“Kami juga sangat mendukung pembukaan sidang PBB di Jenewa yang dimulai Senin, 23 September 2019. Hidup bersama NKRI, maka tidak akan ada keadilan bagi kita orang Papua,” tegasnya, dari Yalimo, Selasa (24/9/2019).

Sementara itu, Siska Gombo, salah satu mahasiswi eksodus mengatakan, mereka pulang ke Papua dengan tujuan menuntut penentuan nasib sendiri bagi bangsa Papua melalui referendum.

“Kami mahasiswa juga mendesak agar pemerintah segera tarik militer organik maupun nonorganik dari Kabupaten Yalimo,” katanya.

Sesudah aksi, malam harinya kejadian nahas menimpa kantor lama bupati Yalimo di Elelim, ibu kota Kabupaten Yalimo. Kantor itu terbakar secara tiba-tiba. Kantor lama bupati Yalimo ini, difungsikan menjadi beberapa kantor dinas di lingkungan Pemkab Yalimo, di antaranya Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas Pencatatan Sipil, dan Badan Keuangan Daerah.

“Mulai Selasa siang, mahasiswa eksodus yang pulang dari berbagai kota studi di luar Papua, juga diizinkan membuka pos komunikasi di kantor itu,” katanya.

Namun ketika malam harinya mereka menggelar rapat di kantor Dinas Kehutanan, sekitar pukul 9 malam, tiba-tiba api melahap kantor bupati. “Kami menduga kantor itu sengaja dibakar orang tidak dikenal. Kami kaget juga melihat kantor bupati terbakar,” kata Alfons.

Alfons menegaskan, ada oknum tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan keberadaan para mahasiswa eksodus di sana.

“Pembakaran kantor lama Bupati Yalimo itu dilakukan oleh oknum tertentu. Jangan sampai orang lain menyangkut-pautkan kebakaran kantor itu, dengan keberadaan kami para mahasiswa eksodus. Kami tidak tahu-menahu tentang kebakaran itu,” tegasnya.

Salah seorang tokoh pemuda Yalimo, Linder Faluk mengatakan, ia mendengar kabar mengenai kebakaran kantor lama bupati, sejak pukul 9 malam. “Sampai saat ini belum jelas siapa pelakunya.”

Gubernur Papua ingin mahasiswa kembali kuliah

Gubernur Papua Lukas Enembe, sempat menemui mahasiswa yang ditahan di Mako Brimob Polda Papua, pada Selasa (24/9/2019). Selain itu, Enembe juga mengunjungi korban luka-luka baik dari pihak mahasiswa dan aparat keamanan, di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara, Kota Jayapura.

“Saya berharap pelayanan kesehatan terhadap para korban luka tersebut, dapat dilakukan dengan baik sehingga para korban ini bisa lekas sembuh,” katanya.

Ia juga menganjurkan agar para mahasiswa kembali ke kota studi masing-masing, jika tidak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua akan menghentikan beasiswa mereka.

“Saya akan hentikan beasiswa kalau mereka tidak mau dipulangkan ke kota studi. Memang ada yang dibiayai oleh orangtua mereka, dan ada juga dari pemerintah daerah. Tetapi kalau yang dibiayai oleh Pemprov akan kami hentikan,” katanya.

Enembe juga mengimbau, agar para mahasiswa eksodus yang berada di Papua tidak mengganggu ketertiban umum di Papua. “Anda datang dari kota studi ke sini, lalu melakukan tindakan anarkistis, itu tidak boleh,” tegasnya.

Ia berharap setelah massa aksi bentrok di Expo Waena dan kerusuhan di Wamena, tidak ada lagi aksi serupa di Provinsi Papua. “Karena aksi tersebut bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga merugikan orang lain.”

Terpisah Ketua Mahasiswa Eksodus Nduga, Otis Tabuni mengatakan, kepulangan mereka karena tidak ada lagi rasa aman dan nyaman saat berada di kota studi masing-masing.

“Sampai saat ini kami tidak nyaman berada di kota studi, karena kami mendapat intimidasi dan teror, baik di indekos atau kampus.” (*)



Laporan ini dibantu tim redaksi Jubi

Sunday, 2 October 2016

Mahasiswa Papua di Bandung bahas “penindasan rakyat Papua”

Jayapura, Jubi - Mahasiswa Papua di kota studi Bandung yang tergabung dalam Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi (Sorak) menggelar diskusi “Penindasan Rakyat Papua” dengan menghadirkan dua pemateri, Filep Karma dan Surya Anta di halaman Sekretariat Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Kota Bandung, Kamis (29/9/2016). Koordinator Sorak Barra Vrada yang dikontak Jubi pada Jumat (30/9/2016) menjelaskan, […]

from WordPress http://ift.tt/2dmaUNw
via IFTTT