Papua Merdeka News

Papua, Irian Jaya, Western New Guinea News Feeder

Telp:+675-78213007 (WA)
Email: tofreemalensia@gmail.com
Mail. Mail: 635 Vision City, NCD, POM,Papua New Guinea
Showing posts with label Pejabat NKRI. Show all posts
Showing posts with label Pejabat NKRI. Show all posts

Wednesday, 25 December 2019

Yesus Meinggalkan Tahta Kerajaan Sorga untuk Manusia - Wentius Nemiangge Meninggalkan Tahta Wakil Bupati untuk Rakyatnya

Tanah Papua selalu didatangi dengan Dua Jenis Malaikat, yang satu membawa kabar baik dan lainnya membawa kabar buruk, silih berganti, terus-menerus. Tahun 2019 ini kita dikurung oleh kabar buruk, bukan di akhir tahun saja, tetapi sejak awal tahun ini. Berakhir dengan teladan yang berikan oleh Wakil Bupati Kabupaten Nduga.Wentius Nemiangge

Catatan YouTube yang melansir video ini mengatakan
Wakil Bupati Nduga menjadi Bapak bangsa kami masyarakat Nduga karena keputusanya sangat bijak,Mundur dari jabatan  sangat merakyat, tarik TNI Polri dari Nduga, itu solusi terbaik Berikan kebebasan Bagi rakyat papua 1 Tahun   dalam kegelapan Nduga save Papua.

Renungan Natal 2019

Yohanes 3:16 selalu menjadi ayat hafalan, dan sebagian besar manusia Kristen atau bahkan orang yang tidak beragama Kristen mengenal dan telah menghafalkan ayat ini. Saya-pun mengetik bunyi berikut berdasarkan hafalan saya sendiri
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah serahkan anak-Nya yang tunggal itu supaya, setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Kasih \Allah yang mengorbankan putra-Nya terlaksana karena Yesus "turun tahta", menggalkan sorga dan turun ke Bumi. Kasih diwujudkan dengan pertama-tama "meninggalkan tahta".

Perayaan Natal di Tanah Papua, khsususnya di Kabupaten Nduga sejak tahun 2018 sampai 2019 ini dipenuhi dengan Kabar Buruk, ada rakyat mengungsi, ada pemberontakan Papua Merdeka, ada reaksi  TNI/Polri yang membabi-buta.

Di tengah-tengah kemelut ini, pejabat Indonesia yang berasal dari Tanah Papua, berasal dari Ndugama sendiri telah hidup dalam dilema yang dapat kita pahami, tetapi tidak dapat kita rasakan bersama, karena kita berada dalam konteks dan suasana yang berbeda.

Apa yang dilakukan Wakil Bupati Kabupaten Nduga Wentius Nemiangge adalah tepat, Yesus meninggalkan tahta-Nya demi keselamatan umat manusia, Wentius Nemiangge meninggalkan tahtanya demi keselamatan masyarakat sesuku-sebangsa, semarga-sekampung halaman. Kedua-duanya adalah juruselamat.

Yesus yang terus berkarya hari ini patut disyukuri oleh semua umat manusia. Yesus bukan hanya sebatas sejarah yang dirayakan, tetapi Yesus adalah sebuah peristiwa yang juga kita syukuri. Yesus yang adalah peristiwa hari ini patut kita teladani.

Lukas Enembe, Wempi Wetipo, Klemens Tinal, Ham Pagawak, Usman Wanimo, Befa Jigibalom, Matius Awaitow, dan semua Bupati, Walikota dan pejabat pemerintah, kepolisian dan militer di Tanah Papua, "Apa pesan kalian? Apa teladan yang kalian tinggalkan untuk umat manusia?" Wentius Nemiangge telah lulus dari pendidikan doktoral Kristen, dan dia telah siap masuk surga dan diterima oleh Allah Bapa di surga, di akhir perjalanan hidup-nya di muka Bumi.

Mathias Wenda, Benny Wenda, Jonah Wenda, Abumbakarak Wenda,Theys Eluay, Yustinus Murib, Kelly Kwalik, Nicolaas Jouwe, Melkianus Awom, H.R. Joweni, S.J. Romekorem, Obed Tabuni, Hans Bomay, Welly Togodly, Laurentz Dloga, Ottow Ondawame, Andy Ayamiseba, Thomas W. Wainggai, Herman Wainggai, Buchtar Tabuni, Musa Tabuni, Markus Haluk,Edison Waromi,  Enden Wanimo, Sem Karoba, Amunggut Tabi, telah menunjukkan teladan kepada bangsa Papua dan kepada dunia, bahwa meninggalkan apa yang kita miliki dari dunia ini untuk kemanusiaan dan membela kebenaran adalah sebuah tindakan terpuji, tercatat dalam nurani manusia dan akan selalu diperkatakan di antara bangsa-bangsa..


Tuesday, 24 December 2019

Wakil Bupati Nduga Mengundurkan Diri: Seragam Sudah Saya Buka dan Letakan Bersama Jasad Korban

AKURAT.CO, Wakil Bupati Nduga, Wentius Nemiangge menyatakan mundur dari jabatannya karena mengaku kecewa terhadap penembakan warga sipil yang kembali terjadi di wilayah pemerintahannya.

Hendrik Lokbere (25) warga Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua, dilaporkan tewas diduga ditembak oleh aparat keamanan saat melakukan perjalanan untuk menjemput keluarganya di Distrik Batas Batu, Kabupaten Nduga, Papua, pada Jumat (20/12/2019) malam.

Wentius mengaku, sejak korban terakhir yang bernama Hendrik Lokbere ditembak pada Jumat (20/12/2019) malam, dirinya sudah melepas seragamnya dan meletakannya bersama jasad korban.

"Seragam sudah saya buka dan letakan bersama korban, mulai hari ini saya lepas jabatan wakil bupati, saya tidak ingin menjadi perpanjangan pemerintah di daerah tapi rakyat saya terus menjadi korban," ujarnya dengan raut muka sedih di hadapan ratusan masyarakat Nduga yang berkumpul di Bandara Kenyam, Senin (23/12/2019) siang kemarin.

Wentius menyebut, penembakan terhadap warganya itu merupakan dampak dari banyaknya pasukan yang dikirim oleh negara ke Nduga dalam satu tahun terakhir. Akibatnya, ribuan masyarakat Nduga mengungsi meninggalkan kampung karena takut dengan aparat.

"Sudah satu tahun terjadi seperti ini, Kami (pemerintah daerah) sudah menghadap Menteri, DPR RI, Panglima dan Kapolri meminta agar pasukan TNI-Polri yang ada di Nduga segera ditarik agar masyarakat kembali ke kampung-kampung untuk beraktivitas seperti biasanya. Namun, sampai hari ini permintaan kami ini tidak pernah direspon, bahkan penembakan terhadap warga sipil terus terjadi," ungkapnya.

Menurutnya, dia bersama Bupati, Yairus Gwijangge, merupakan perpanjangan tangan dari presiden di daerah, dan harusnya bisa didengar oleh pemerintah pusat, namun kenyataanya sangat bertolak belakang, karena permintaan mereka tidak pernah digubris.

"Kami ini adalah perpanjangan tangan presiden di daerah, tapi sejauh ini kami tidak ada nilainya, kami tidak dihargai, tapi sejauh ini kami tidak ada nilainya, kami tidak dihargai. Permintaan kami tidak pernah digubris oleh pemerintah pusat, lalu untuk apa kami ada? Kami hanya dijadikan boneka oleh pemerintah, maka mulai hari ini saya meletakan jabatan saya sebagai Wakil Bupati Nduga, dan mulai hari ini saya akan kembali menjadi masyarakat biasa," tegasnya.

Ia menegaskan, masyarakat Nduga sama dengan masyarakat lainnya di pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan seluruh dunia, namun ia merasa rakyat Nduga diperlakukan berbeda dan tidak dihargai.

"Kita semua ciptaan Tuhan yang paling mulia, memiliki derajat yang sama dengan saudara kita diluar Papua. Tapi perlakuan negara ke kita orang Nduga sangat berbeda, jadi untuk apa kita pertahankan negara ini kalau kita terus dibunuh? Dimana keadilan itu? Apakah kami tidak berhak mendapat keadilan?" tanyanya.

Dia menyebut, pengunduran dirinya merupakan tanggung jawab terhadap masyarakat Nduga yang terus menjadi korban kekerasan dari aparat.

"Kepada pak bupati yang saya hormati, mulai hari ini saya mengundurkan diri sebagai wakil bupati dan bapak saja jalan sendiri. Terima kasih sudah bersama kurang lebih 3 tahun, banyak kelebihan dan kekurangan dalam menjalankan tugas, mulai hari ini saya akan kembali ke masyarakat dan menggunakan koteka," ungkapnya.

la juga meminta kepada pemerintah pusat untuk segera menarik seluruh personel yang dikirim dan ditempatkan di Nduga, serta pekerjaan pembangunan jalan trans Papua selanjutnya  dikerjakan oleh sipil.

"Sekali lagi saya minta aparat TNI-Polri segera ditarik dari Nduga dan pembangunan jalan trans Papua diserahkan kepada sipil, dengan begitu maka rakyat yang sudah mengungsi akan kembali dan memulai kembali hidupnya di kampung," pungkasnya.[]

Anggota DPR Papua Benarkan Soal Pengunduran Diri Wakil Bupati Nduga

AKURAT.CO, Anggota DPR Papua bidang pemerintahan, politik dan HAM, Laurenzus Kadepa membenarkan soal mundurnya Wakil Bupati Nduga, Wentius Nemiangge pada Senin (23/12/2019) kemarin di hadapan ratusan warganya di Bandara Kenyam.

Wakil Bupati Nduga, Wentius Nemiangge menyatakan mengundurkan diri dari
jabatannya di hadapan ratusan masyarakat Nduga yang berkumpul
di Bandara Kenyam, Senin (23/12/2019) siang kemarin. | ISTIMEWA
"Itu peristiwa kemarin saat beliau bicara di hadapan ratusan masyarakat Nduga yang sedang berkumpul di Bandara Kenyam sebagai bentuk protes atas operasi militer yang selama ini terjadi di sana, karena sudah banyak masyarakat sipil yang jadi korban," kata dia melalui keterangan tertulis yang diterima pada Selasa (24/12/2019).

Menurut Politisi Partai Nasdem ini, pernyataan mundur Wakil Bupati Nduga ini merupakan langkah berani dan pantas diapresiasi.

"Beliau luar biasa, karena dia punya hati nurani untuk masyarakatnya. Jujur saja selama ini aspirasi pemerintah daerah Kabupaten Nduga dan Papua tentang krisis warga Nduga tidak pernah didengar pemerintah pusat. Padahal Pemda itu perpanjangan pemerintah pusat di daerah. Ini penyebab mundurnya Pak Wabup Nduga. Dia tidak mau rakyatnya ditembak terus akibat perang antara TPNPB dan TNI Polri," ujarnya.

Selain itu, langkah Wakil Bupati Nduga ini merupakan bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah pusat yang terus mengirimkan militer dalam jumlah besar ke Nduga dengan alasan pengejaran terhadap kelompok Eginus Kogoya.

"Betapa tidak, sejak operasi militer satu tahun terakhir ini puluhan ribu rakyat Nduga mengungsi ke hutan dan kabupaten tetangga. Mereka kehilangan hak hidup, ekonomi, kesehatan, pendidikan, ibadah Natal tidak bisa dan lain-lain. Jadi ini sudah bentuk frustrasi juga," ungkap Laurenzus.

Diberitakan sebelumya, Wakil Bupati Nduga, Wentius Nemiangge menyatakan mundur dari jabatannya karena mengaku kecewa terhadap penembakan warga sipil yang kembali terjadi di wilayah pemerintahannya.

Hendrik Lokbere (25) warga Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua, dilaporkan tewas diduga ditembak oleh aparat keamanan saat melakukan perjalanan untuk menjemput keluarganya di Distrik Batas Batu, Kabupaten Nduga, Papua, pada Jumat (20/12/2019) malam.

Wentius mengaku, sejak korban terakhir yang bernama Hendrik Lokbere ditembak pada Jumat (20/12/2019) malam, dirinya sudah melepas seragamnya dan meletakannya bersama jasad korban.

"Seragam sudah saya buka dan letakan bersama korban, mulai hari ini saya lepas jabatan wakil bupati, saya tidak ingin menjadi perpanjangan pemerintah di daerah tapi rakyat saya terus menjadi korban," ujarnya dengan raut muka sedih di hadapan ratusan masyarakat Nduga yang berkumpul di Bandara Kenyam, Senin (23/12/2019) siang kemarin.[]