Papua Merdeka News

Papua, Irian Jaya, Western New Guinea News Feeder

Telp:+675-78213007 (WA)
Email: tofreemalensia@gmail.com
Mail. Mail: 635 Vision City, NCD, POM,Papua New Guinea
Showing posts with label Sebby Sambom. Show all posts
Showing posts with label Sebby Sambom. Show all posts

Friday, 16 April 2021

TNI Akui Ada Prajurit Bergabung KKB Papua

Ilustrasi. (Foto: ANTARA/HO-Humas Polda Papua)

Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Penerangan Kogabwilhan III Kolonel Czi IGN Suriastawa membenarkan informasi salah satu prajurit TNI yang kabur dan bergabung dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organsiasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM).

Suriastawa mengatakan, prajurit TNI itu telah bergabung sejak 12 Februari lalu dan baru kembali diramaikan saat ini.

"Walaupun hal itu benar, tetapi kejadiannya tanggal 12 Februari 2021 yang lalu, bukan kejadian baru dan sudah diberitakan di media," kata Suriastawa melalui pesan singkat, Jumat (16/4).

Ia menduga, pihak OPM tengah bersiasat dengan meramaikan kembali kejadian lama sehingga seolah baru saja terjadi.

Lihat juga: OPM Akui Tembak Guru di Beoga: Dia Mata-mata TNI-Polri

Suriastawa menuturkan, prajurit TNI dari Yonif 410 itu kabur pada 12 Februari lalu dari pos pemantauan tanpa membawa senjata.

"Sampai saat ini tidak jelas keberadaannya," kata Suriastawa.

Suriastawa mengingatkan agar masyarakat Papua, tepatnya di Ilaga lebih berhati-hati dan mewaspadai aksi teror yang dilakukan oleh para OPM.

Apalagi kata dia, saat ini mereka semakin gencar melakukan teror dengan membunuh masyarakat sipil.

"Kali ini KKB menembak mati seorang pelajar SMA, Ali Mom (16 tahun) di kampung Uloni, Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak Kamis (15/4) kemarin," kata dia.

Lihat juga: Komnas HAM Minta Otsus Papua Dievaluasi Usai Penembakan Guru

Sebelumnya, Juru Bicara OPM Sebby Sambom menyebut seorang anggota TNI yang bertugas di Pos Bulapa memutuskan bergabung dengan OPM.

Ia mengklaim, keputusan yang diambil anggota TNI itu lantaran tak tahan dengan sikap TNI yang kerap menembak masyarakat sipil Papua.

"(Bergabung) Sejak Februari 2021 karena dia lihat anggota TNI suka tembak masyarakat sipil, termasuk pendeta," kata Sebby.

Sebby menyebut prajurit TNI itu saat ini langsung menjadi prajurit OPM sebab sudah cukup terlatih saat masih bergabung di TNI.

Eskalasi konflik TNI dengan kelompok bersenjata di Papua meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah penembakan terjadi, beberapa di antaranya menyasar warga sipil, termasuk dua guru. 


(tst/pris)

Monday, 12 April 2021

OPM Akui Tembak Guru di Beoga: Dia Mata-mata TNI-Polri

 

Ilustrasi senjata laras panjang. (Istockphoto/blyamur)

Jakarta, CNN Indonesia -- Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengakui pihaknya telah menembak seorang guru sekolah dasar (SD) bernama Oktavianus Rayo (43) di wilayah Boega, Kabupaten Puncak, Papua pada Kamis (8/4).

Juru Bicara OPM, Sebby Sambom mengatakan kelompoknya menembak mati guru tersebut lantaran mereka yakin korban adalah mata-mata TNI-Polri.

"Guru SD yang ditembak mati di Boega itu adalah mata-mata TNI-Polri yang telah lama diidentifikasi oleh PIS TPNPB. Oleh karena itu, tidak ragu-ragu ditembak oleh pasukan TPNPB," kata Sebby Sambom melalui keterangan tertulis, Senin (12/4).

TPNPB, yang sering dijuluki aparat sebagai kelompok kriminal bersenjata (KKB) mengklaim telah berhasil memetakan mata-mata kepolisian yang tersebar di sejumlah wilayah Papua.

Lihat juga: Polda Papua Sebut Helikopter Dibakar KKB Sudah Tak Berfungsi

Menurut dia, mereka kebanyakan menyamar sebagai tukang bangunan, guru, mantri, petugas distrik, hingga beragam profesi lainnya. Sehingga, KKB mengultimatum agar tak ada masyarakat yang menyamar sebagai mata-mata kepolisian.

"Kami juga tidak sembarang tembak masyarakat Papua maupun non Papua. Kami sudah tahu kerja TNI-Polri, selalu menggunakan tenaga masyarakat sipil ataupun PNS apapun statusnya jadikan mereka sebagai mata-mata," katanya lagi.

Menurut Sebby, hal itu dilakukan untuk melacak keberadaan pasukan KKB yang masih tersebar di sejumlah wilayah.

"Sikap kami, jelas bahwa kami akan tembak karena mereka adalah musuh kami," ujar dia.

Lihat juga: 9 Ribu Polisi Dikerahkan Kawal PON Papua Oktober 2021

Di sisi lain, polisi sendiri mengklaim telah berhasil mengidentifkasi pelaku penembakan tersebut. Saat ini, kata dia, pihaknya bakal melakukan pengejaran dan penindakan.

"Berdasarkan hasil penyelidikan yang intensif, pelaku penembakan sudah terdentifikasi," kata Kasatgas Nemangkawi, Brigjen Roycke Harry Langie dalam video telekonferensi bersama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Senin (12/4).


Alasan Klasik

Sementara itu Kepala Humas Satgas Nemangkawi Komisaris Besar M Iqbal Alqudussy mengatakan tudingan guru yang jadi korban penembakan adalah alasan klasik kelompok bersenjata di Papua. 

"Buktinya apa Bapa Oktovianus dan Bapa Yonathan itu intel? Itu semua hanya alasan klasik mereka untuk menggiring opini publik supaya aksi teror mereka dimaklumi," kata Iqbal dalam keterangan tertulisnya seperti dilansir dari Antara.

Menurut Iqbal, membunuh, membakar, dan menembaki masyarakat sipil pendatang, kemudian melakukan mempublikasikannya di sosial media sebagai kebanggaan, dan menyangkal bahwa korban sipil tersebut merupakan masyarakat tidak bersalah. Hal tersebut kini telah menjadi modus komunikasi Kelompok Separatis Bersenjata di Papua.

Iqbal juga mengatakan merampok uang dilakukan kepada pendatang karena kini KKB tidak kebagian dana Otonomi Khusus (Otsus) dari pemerintah daerah. Akibat larangan tegas Kemendagri kepada kepala daerah yang menyalahgunakan dana Otsus Papua.

"Almarhum Bapa Oktovianus dan Bapa Yonathan ini hanya guru yang tinggal di sini dengan niat mulia mencerdaskan anak-anak Kabupaten Puncak, Papua. Siapapun yang berhati nurani pasti tidak akan membenarkan penembakan keji tersebut," ujar Iqbal.

KKB juga diduga membakar tiga sekolah yang terletak di wilayah tersebut usai insiden penembakan. Pembakaran, diduga dilakukan oleh KKB pimpinan Nau Waker alias Tidak Jadi.

Nau Waker sendiri telah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) yang diterbitkan oleh Polres Mimika. Dia diduga terlibat dalam sejumlah kasus kejahatan yang di wilayah itu.


(mjo/ain)

Saturday, 7 November 2020

Penembakan Intan Jaya. Sebby Sambom Dikucilkan karena Hanya Bisa Main Klaim

Sebby Sambom Juru Bicara kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB OPM) dianggap telah gagal dan tidak bisa menjalankan tugasnya dalam setiap perjuangan bangsa Papua. (7/11)

Banyak pendapat dikemukakan sebab Sebby hanya bisa mendeklarasikan jabatannya sebagai jubir, tapi tidak memiliki kemampuan yang mumpuni dalam membawa pengaruh besar bagi perjuangan yang masih terus dilancarkan.

Sebby dianggap sebagai orang yang haus akan kedudukan, dan tidak akan peduli terhadap pelik yang terjadi. Terlebih buah pikirnya tentang pembenaran jika harus mengorbankan seorang teman telah menjadi kontroversi dikalangan tokoh perjuangan. 

Hal ini diungkap oleh Buchtar Tabuni sebagai salah satu tokoh yang berpengaruh di Papua, lewat organisasinya ULMWP.

"Sebby bukanlah sosok pejuang yanh sejati. Apa yang Papua dapatkan saat ini semua tidak ada campur tangan dan keringatnya. Dia pintar membentuk opini, dan itu adalah otak licik yang dimiliki untuk mengangkat kedudukannya," ujar Buchtar.

Wakil Ketua ULMWP tersebut juga mengatakan kalau Sebby tak ubahnya seperti anak kecil yang sedang asik bermain tanpa kenal waktu ataupun risiko.

"Saya yakin dia tidak paham situasi. Tentang kondisi kelompoknya di hutan saja misalnya, saya kira dia tidak tahu bahkan tidak mau tahun tentang apa yang sedang terjadi sekarang," tambahnya.

Kemarahan Buchtar pun diketahui  memuncak ketika klaim demi klaim dilakukan oleh Sebby. Ia mengatakan bahwa Sebby sedang mencoba untuk mengangkat namanya atas peristiwa tewasnya TNI di Kabupaten Intan Jaya pada 6 November kemarin.

"Siapa yg berjuang disana, dan siapa yang harus berkorban nyawa, maka merekalah pejuang sejati. Bukan hanya duduk di kursi nyaman, kemudian ketika ada peristiwa baru buang suara seolah dia adalah aktor pentingnya. Licik, picik, dia adalah pengkhianat bangsa Papua,"

Menyoal pengkhianat, Buchtar juga menilai bahwa Sebby tidak lagi memiliki pemikiran yang jernih terkait perjalanan dari perjuangan bangsa Papua. Hal ini disampaikan Buchtar dengan mengandai bahwa kebiasaannya (Sebby Sambom) melakukan klaim atas penembakan terhadap TNI cukup kontradiktif dengan peristiwa jika orang sipil yang menjadi korban.

"Kasusnya, ketika sipil yang jadi korban penembakan, apa yg bisa dia kerjakan, bahkan untuk membela pun dia tidak punya kemampuan itu. Dia tidak lagi punya hati atau mencoba berempati, padahal perjuangan saat ini untuk membela orang Papua," ujar Buchtar saat menyampaikan beberapa kasus penembakan warga sipil yang dilakukan oleh kelompok TPNPB.


Source: https://www.indonesianpaper.online/