Papua Merdeka News

Papua, Irian Jaya, Western New Guinea News Feeder

Telp:+675-78213007 (WA)
Email: tofreemalensia@gmail.com
Mail. Mail: 635 Vision City, NCD, POM,Papua New Guinea
Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Saturday, 24 October 2020

John Anari: Memenuhi Janji Dekolonisasi

Di sebagian besar dunia, pembicaraan tentang kolonialisme memunculkan gambaran tentang masa lalu yang jauh. Tetapi proses dekolonisasi yang menandai begitu banyak sejarah dunia pada pertengahan dan akhir abad ke-20 masih belum berakhir. Menjelang akhir Dekade Internasional Ketiga (ya, ketiga!) Untuk Pemberantasan Kolonialisme, mari kita lihat lebih dekat apa yang sedang dilakukan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mencapai janjinya tentang dekolonisasi.

APA ITU "DEKOLONISASI" DAN KENAPA KITA MASIH BERBICARA TENTANG ITU?

Kelahiran Perserikatan Bangsa-Bangsa 75 tahun lalu adalah bagian dari transformasi mendasar cara dunia diatur. Pada tahun 1945, sekitar 750 juta orang, hampir sepertiga dari populasi dunia pada saat itu, tinggal di wilayah yang bergantung pada kekuatan kolonial. Sejak 1945, lebih dari 80 bekas jajahan telah merdeka. Dekolonisasi, yang mengubah wajah planet ini, merupakan salah satu keberhasilan besar pertama PBB.

Namun proses dekolonisasi belum selesai. Masih terdapat 17 Non-Self-Governing Territories (NSGTs), dengan total populasi 1,6 juta orang. NSGT terakhir yang mengubah statusnya adalah Timor-Leste, yang pada tahun 2002 menjadi negara berdaulat baru pertama di abad ke-21, setelah tiga tahun pemerintahan transisi PBB.

Apa yang dilakukan PBB tentang dekolonisasi?

Perserikatan Bangsa-Bangsa memantau kemajuan menuju penentuan nasib sendiri di Wilayah, sebagaimana diamanatkan oleh Deklarasi Pemberian Kemerdekaan kepada Negara dan Rakyat Kolonial, yang diadopsi oleh Sidang Umum pada tahun 1960. Deklarasi tersebut menegaskan hak semua orang untuk menentukan nasib sendiri dan memproklamasikan bahwa kolonialisme harus diakhiri.

Mengapa Penambangan Freeport Indonesia dapat menghapus Papua Barat dari daftar Dekolonisasi (Non Self-Governing Territories)?

Sumber: FB

Friday, 7 October 2016

Melawan Hegemoni Kolonialis

Apa sebab Indonesia bisa dijajah cukup lama oleh kolonialisme Belanda? Banyak orang yang bilang, Indonesia kala itu kalah unggul di bidang teknologi, khususnya teknologi kemiliteran. Juga karena kolonalisme menguasai pengetahuan modern kala itu. Penjelasan itu ada benarnya, tetapi belum memadai. Belanda hanyalah negeri kecil di Eropa sana; luasnya hanya seperempat pulau Jawa. Sedangkan luas Indonesia […]

from WordPress http://ift.tt/2djHCh5
via IFTTT

Mengingat Kembali Tokoh Papua Karel Gobay

Oleh: Beny Pakage Cerpen, (KM). Bila kita membuka kembali sejarah perlawnan orang Papua, bulan Juli adalah puncak dari rakyat Papua yang di wakili oleh orang Mee di Paniai melakukan perang menolak kehadiran Indonesia di Papua di hadapan PBB dan UNTEA. Dan dalam semangat itu, kami menulis sebuah kisah yang indah menjelang perang antara Indonesia dan […]

from WordPress http://ift.tt/2dzFeV4
via IFTTT

Diskusi “Melawan Lupa” Tentang Karel Gobay

Sentani, (KM)--- Banyak orang sengaja atau mungkin tidak sengaja melupakan tokoh yang tampil sejak akhir dari perang dunia ke II dan awal perjumpaan budaya dan injil di pengunungan Papua tahun 1946. Ia seorang yang tepat menjembatani antara kebudayaan baru dengan kebudayaan masyarakat Papua khususnya masyarakat Papua. Beliau bukan saja dijuluki sebagai pioner kebudayaan baru,  tetapi […]

from WordPress http://ift.tt/2cWH2tw
via IFTTT

Monday, 29 August 2016

PNWP Diminta Sediakan Ruang Untuk Rumuskan Wajah Negara Republik West Papua

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Pusat sebagai media nasional rakyat West Papua meminta Parlemen Nasional West Papua (PNWP) sebagai lembaga politik bangsa Papua agar memikirkan dan bertindak untuk merumuskan wajah negara republik West Papua. Bazoka Logo, juru bicara nasional KNPB Pusat mengatakan, PNWP sebagai badan representatif rakyat diminta untuk fokus melihat apa yang […]

from WordPress http://ift.tt/2bLM63R
via IFTTT

Wednesday, 10 August 2016

Perayaan Kemerdekaan Indonesia Di Papua Pembohongan Publik

Oleh: Ones Suhuniap Tabloid-WANI -- Sejarah telah membuktikan bahwa, orang Papua barat tidak perna ikut terlibat dalam perjuangan kemerdekan indonesia selama 350 tahun. Perjalanan perjuagan indonesia tidak pernah orang Papua ikut terlibat dalam Sumpa pemuda, dalam organisasi perjuagan sampai dengan proklamasi 17 Agustus 1945. Sekalipun bangsa Papua dan Indonesia dijaah oleh satu penjaja yang sama […]

from WordPress http://ift.tt/2b716ZC
via IFTTT

Monday, 25 July 2016

Papua Dipaksakan ke Dalam Indonesia

Aksi-aksi perjuangan pemisahan diri tidak pernah habis di bumi Cendrawasih,  sejak PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) pada tahun 1969 silam. PEPERA yang merupakan sebuah referendum rakyat Papua dengan pilihan bergabung dengan Indonesia atau berdiri sendiri sebagai sebuah negara berakhir dengan kemenangan pemilih Indonesia. Tidak semua rakyat Papua terlibat referendum tersebut. Berikut ini sekilas tentang PEPERA  yang […]

from WordPress http://ift.tt/2apzADi
via IFTTT

Saturday, 23 July 2016

Mengingat Kembali Tokoh Papua Merdeka “Karel Gobay”

oleh : Beny  Pakage Bila kita membuka kembali Sejarah Perlawnan orang Papua, bulan Juli adalah Puncak dari Rakyat Papua yang di wakili oleh orang Mee  di Paniai   melakukan perang menolak kehadiran Indonesia di Papua di Hadapan PBB dan UNTEA. Dan dalam semangat itu, kami menulis sebuah kisah yang indah menjelang Perang antara Indonesia dan Orang […]

from WordPress http://ift.tt/2ak0ooK
via IFTTT

Tuesday, 22 December 2015

Peringati Hari Trikora, PNWP Tolak Keberadaan Indonesia di Papua

Arnold Belau, Dec 21, 2015 Semarang, Jubi – Memperingati hari Trikora pada 19 Desember 2015, Parlemen Nasional West Papua (PNWP) dengan tegas menolak keberadaan Indonesia di Tanah Papua. Dalam surat elektronik PNWP yang diterima Jubi tersebut menjelaskan, pada 19 Desember 2015 genap 54 tahun Trikora diumumkan di alun-alun Kota Yogyakarta oleh Soekarno. Hari ini adalah […]

from WordPress http://ift.tt/1TZXZOv
via IFTTT

Wednesday, 14 August 2013

Memperjuangkan Cita-Cita dengan Akal dan Hati Nurani

Selasa, 13 Agustus 2013 22:25, Ditulis oleh  Tom/Papos

Almarhum Eliezer Yan Bonay adalah salah satu tokoh Papua yang memperjuangkan kembalinya Papua ke dalam NKRI. Bagaimana pemikiran almarhum dimata putrinya Ny.Heemskercke Bonay, SE.
OLEH : TUMBUR GULTOM/PAPOS

Pasca Papua kembali kedalam NKRI tahun 1 Mei 1963. Almarhum Eliezer Yan Bonay menjadi Gubernur pertama Papua hingga 1964 akhir.

Pria kelahiran Serui, 24 Agustus 1924 adalah penganut paham nasionalisme sejati. Ia merangkul semua suku, golongan tanpa pandang bulu.

”Ayah saya, Almarhum Eliezer melihat Papua itu satu dan utuh didalam NKRI,” kenang Ny. Heemskercke Bonay, SE ketika  ditemui di kediamannya Jalan Lembah No.12, Angkasa Indah III, Angkasapura, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Minggu (11/8).

Mengenai makna kemerdekaan RI, Heemskercke menuturkan bahwa ayahandanya, Alm Eliezer Yan Bonay sangat berkeinginan memperjuangkan satu  cita-cita yang agung, yang besar,  menggunakan akal dan hati nurani. Jika begitu, maka akan tercapai  apa yang diperjuangkan  dengan aman, tanpa gesekan-gesekan  yang  membawa penderitaan bagi siapapun.

Alm. Eliezer Yan Bonay, ucap Ny Heemskercke, sepeninggalnya berpesan kepada  generasi  muda untuk  selalu giat belajar, menguasai ilmu yang dimiliki, mempraktekan dalam kerja nyata. Sehingga, apa yang dituju pasti dapat tercapai atas karunia Allah.

”Ingat selalu, semua yang ada didunia ini diciptakan Allah untuk kebahagiaan. Karena semua yang terjadi dalam kehidupan cinta kasih, saling mengasihi, bukan milik mutlak  seseorang  untuk kesenangannya sendiri,” tegas Heemskercke saat menirukan pesan almarhum ayah.

Kepada para pemuda, Alm. Eliezer Yan Bonay juga berpesan agar tidak mudah terbawa emosi, apabila menginginkan suasana yang aman damai. Ia juga mengingatkan agar pemuda pergunakan akal cemerlang  atas dasar ilmu dan hati nurani yang  bijaksana, atas dasar  hasil perjuangan untuk kesejahteraan, ketenteraman semua orang-orang bukan untuk  kemenangan atas kesenangan sendiri saja.
”Tanah ini kaya,  namun diperlukan sebuah ilmu  untuk menggalinya, untuk  dimilikinya, dan untuk mengelola agar bisa dinikmati, Sebab, selangkah demi selangkah  dengan ilmu yang kita miliki, kekuasaan atas kekayaan itu akan dikaruniakan kepada kita dengan jalan alamiah tanpa sikut sana sikut sini,” tuturnya.

Heemskercke juga mengisahkan cerita bagaimana perjuangan Alm. Eliezer Yan Bonay, dimana sejak muda telah memilih  bergabung  bersama Partai Nasional (PARNA).

Perjuangannya menuai hasil, menjadi anggota Volksraad sebutan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
”Massa itu, sedikit tokoh-tokoh yang paham politik, namun yang sedikit itu ternyata kuat daya pemikirannya dan memiliki nurani kebijaksanaannya,” ucapnya.

Heemskercke menuturkan, semasa ayahandanya diculik saat perundingan dengan Pemerintah Belanda, yang kemudian dipertemukan dengan mendiang Jenderal Panjaitan di Born, Jerman Barat. Dalam pertemuaan itu yang tujukan untuk pengasingan oleh pemerintah Belanda, Alm Eliezer menerima pesan-pesan dari Presiden pertama RI Ir.  Soekarno agar tetap setia berjuang mengembalikan Irian Barat ke pangkuan NKRI.

Perjuangan yang tiada henti-hentinya pada akhirnya mengantarkan, Irian Barat kembali ke pangkuan NKRI, walau sejumlah kelompok hadir dengan paham berbeda ingin memisahkan diri.

Melihat hal tersebut, kata Heemskercke bapaknya langsung menyampaikan sebuah pengertian kepada mereka tentang makna  NKRI itu. 

Maka dari itulah dibuatkanlah Musyawarah Irian Barat yang  pertama tahun 1964,” ketika akan Pergelaran musyararah dilakukan sebagian kelompok mulanya ada yang terkena isu Belanda  untuk mengadakan plebisit (Pemungutan Suara), sehingga mengakibatkan muncul pro kontra, padahal Musyawarah itu diadakan untuk pernyataan penentuan nasib  sendiri (self determination), kebulatan tekat bersatu  tetap menjadi bagian dari NKRI,” paparnya.

Sesuai kesaksian Alm Eliezer Yan Bonay, kata Ny Heemskercke, pada masa itu timbul kelompok yang akan mengibarkan bendera yang direkayasa seakan-akan bendera negara Papua, padahal setelah diamati betul garis lintang yang kalau disusun-susun baik nampak bendera Belanda, segala upaya dilakukan kelompok pada waktu itu namun tetap saja  tidak  berhasil, artinya ayah saya dan rekannya tidak dapat dibujuk untuk hadir pada pengibaran bendera itu dan ayah saya tetap pada  pendiriannya bergabung dengan NKRI, dalam arti berpemerintahan satu - NKRI, sebagai  negara merdeka dan berdaulat, yang dulunya jajahan Belanda,” cetusnya sambil memegangi foto-foto Almarhum ayahnya telah tutup usia di Negeri Kincir angin, Belanda, tepat, 13 Maret 1990 lampau.

Melihat sikap para generasi penerus memaknai hari Kemerdekaan RI, Ny. Heemskercke, mengaku perih, lantaran kurangnya rasa nasionalisme. Untuk itu dia mengajak  saudara-saudara  sebangsa dan setanah air, terutama berdomisili di Papua untuk  bersama membangun  Papua  agar menuju Papua yang sejahtera, damai, abadi sesuai dengan cita – cita Proklamasi Kemerdekaan 1945, “Kita mempunyai tanggungjawab moral sebagaimana ditunjukan Eliezer Yan  Bonay, seorang tokoh pejuang yang dijuluki  Gubernur integrasi bangsa yang mengembalikan Irian Barat  kepada pangkuan NKRI  pada  1 Mei 1963,” tutup Ny. Heemskercke. (Bersambung)

Terakhir diperbarui pada Selasa, 13 Agustus 2013 22:46


Tuesday, 3 May 2011

Lomba Jubi Warnai Peringatan 1 Mei di Perbatasan RI-PNG

 Ditulis oleh (aj/aj/acowar  

Para peserta lomba memanah sat berpose bersama panitia. JAYAPURA—Peringatan 1 Mei sebagai hari kembalinya wilayah Papua ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tampaknya diperingati hingga di wilayah Perbatasan RI-PNG.perayaan tersebut dilakukan dengan pelaksanaan lomba jubi (memanah) dan turnamen bola voley.

Dalam lomba yang melibatkan masyarakat di delapan kampong, ditutup oleh Kepala Distrik Muara Tami Robby Kepas Awi.  “Dengan memperingati moment 1 Mei, adalah sebagai salah satu upaya kita menghormati jasa para pahlawan,” ujarnya saat memberikan sambutan yang diikuti ratusan warga masyarakat di Perbatasan RI-PNG.

Sementara itu, Ketua Panitia Peringatan 1 Mei, Lettu Inf. Dony Fransisco yang menjabat sebagai Danpos Perbatasan, mengatakan bahwa peringatan 1 Mei tersebut dilaksanakan untuk menumbuhkan dan mempertebal jiwa nasionalisme di dalam kehidupan bermasyarakat.

Tentang lomba yang digelarnya, untuk lomba bola voly , diikuti oleh 12 tim. “Sedangkan lomba memanah menggunakan jubi, diikuti dengan antusias oleh masyarakat. Ada 264 peserta lomba jubi,” ungkapnya.

Keluar sebagai pemenang lomba jubi, Enos Mallo sebagai juara satu, Ismael Nally sebagai juara dua, Yakob samallo sebagai juara tiga. Sedangkan lomba bola voly, dimenangkan tim dari Kampung Holtekamp sebagai juara satu, dari Kampung Moso sebagai juara dua dan dari kampong Wutung sebagai juara tiga. (aj/aj)

Senin, 02 Mei 2011 23:29


Posted via email from West Papua Merdeka News

Massa Pro ‘M’ Siap Demo - Titik Kumpul Makam Theys, Abepura, dan Taman Imbi

Mengapa Orang di Demta Paling Vokal dengan Aspirasi M?
Ditulis oleh redaksi binpa   
Senin, 04 April 2011 16:00

Oleh: Jimmy Fitowin*

Dari Catatan sejarah  administrasi Pemerintah, Distrik Demta yang merupakan salah satu Distrik di wilayah pembangunan II Kabupaten Jayapura, adalah Distrik tertua di kawasan Mamberamo-Tami atau yang sering dikenal dengan sebutan Tabi. Sekitar Tahun 1916 Pemerintah Hindia Belanda mendirikan sebuah kawasan Kota kecil di pesisir pantai utara Kabupaten Jayapura, yang pada masa itu masih mencakup wilayah Mamta. Kota kecil yang akhirnya diberi nama Distrik Demta Kota itu menjadi pusat administrasi Pemerintah Hindia Belanda sebelum akhirnya dibentuk pula Distrik-Distrik lain di tanah Tabi yang kini meliputi wilaya Kab/Kota Jayapura, Keerom, Sarmi, dan Mamberamo Raya.

Distrik Demta pada awalnya dihuni oleh warga lokal yang dikenal dengan suku Jouwari dan Yokari, juga mereka hidup berdampingan dengan warga non Papua lainnya yang sebagian besar berkewarganegaraan China dengan sangat rukun. sayangnya Distrik Sulung itu kini masuk dalam peta merah milik intelegen NKRI untuk terus di awasi dan di mata-matai. Itu setelah rentetan raport merah tergores disana terkait operasi dan sepak terjang “Papua Merdeka”. Ya sebut saja latihan pasukan OPM, penyerangan terhadap mobil patrol aparat, penemuan dokumen-dokumen penting dan senjata laras panjang di salah satu tempat persembunyian, serta rentetan pengibaran Bintang Kejora hingga yang terakhir terjadi di rumah adat Kampung Ambora itu semua terjadi di wilayah tersebut. Saat ini jangan coba-coba banggakan keberhasilan otsus disana, termasuk juga pembangunan pada sector-sektor yang lain yang bersumber dari dana APBD Kabupaten dan Provinsi maupun, APBN, serta sumber dana lain. Seharusnya Pemerintahpun malu untuk mengatakan bahwa ada upaya proses percepatan pembangunan disana. Ada beberapa bukti yang bisa ditemui disana, terutama sekali adalah jalan. Ya, jalan sejauh 20 KM dari Demta menuju Kampung Berap Distrik Nimboran 90 persen berpotensi terjadi kecelakaaan.

Masyarakatpun telah jenuh untuk meminta Pemerintah merehap jalan karang tersebut menjadi permanen. Kadang dari pihak Pemerintah berdalih itu adalah asset Provinsi, sementara dari Provinsi menjawab seharusnya dishering dengan Pemerintah Kabupaten, sementara pihak lain menjawab itu jalan perusahaan sehingga Pemerintah enggaan memperbaikinya. Korbanpun berjatuhan, terakhir warga kampung Ambora yang harus kehilangan kepalanya karena terjun bersama truc tengki di turunan curam memasuki Distrik Demta. Ternyata bukan jalan saja yang menjadi tangisan masyarakat, Listrikpun pasang surut, kadang menyala kadang tidak, apalagi yang di Kampung-Kampung yakni Muris, Ambora, Yaugapsa, Kamdera, dan dan si bungsu Muaif. Pengelola Generator mengeluh bahwa stok bahan bakar menipis, padahal kebutuhan listrik sangat diharapakn sekali oleh masyarakat. Dari kejahuan masyarakat hanya menelan ludah menyaksikan listrik di pelabuhan perusahaan Sinar Mas ON selama 24 jam diatas tanah adat mereka yang direbut oleh Sinar Mas memanfaatkan kelemahan intelektual masyarakat adat. Dari sisi ekonomis mereka diperas habis-habisan dengan sumber daya alam biota laut mereka oleh para tengkulak bermulut manis. Tidak sedikit para ibu rumah tangga yang masak tanpa bumbu dan garam karena keterbatasan financy.

 Tidak sedikit pula remaja dan pemuda yang putus pendidikan karena tidak ada biaya studi dan terpaksa harus membantu orang tua mereka untuk mengadu nasib di telaga raksasa (laut) yang diberikan Tuhan sejak dari semula, yang sewaktu-waktu bisa mengancam nyawa mereka. Pemerintah mencoba menjawab mereka melalui peningkatan sumber daya manusia dengan menghadirkan SMA Negeri Demta. Entah ini ide siapa sekolah itu dibangun 7 kilometer disisi selatan Demta dan berada di kawasan hutan belantara, tanpa ada rumah dinas guru yang mungkin bisa membuat para pahlawan tanpa jasa itu betah bersama siswa disitu. Jangan heran kalau para gurupun seperti kapal selam yang timbul tenggelam. Pendidikanpun tidak berjalan maksimal, alias kocar-kacir pengayaan yang dilakukan untuk 53 murid kelas XI siswa SMA memanfaatkan ruang belajar di SD Inpres Demtapun tidak berjalan dengan baik karena para guru jarang hadir. Kepsekpun takut menegur karena jangan sampai sang guru benar-benar menghilang hingga nanti keadaan bisa tambah fatal. Sementara itu musibah alam tidak sedikit yang memporak-porandakan perumahan dan membuat warga lari kocar-kacir ketakutan.

Kampung Kamdera, dan Muaif adalah 2 kampung yang selalu menjadi makanan empuk air pasang tsunami. Ketika rakyat membutuhkan bantuan, paling-paling yang dikirim ke Kampung yang terkena musibah hanya kelambu, supermi, obat-obatan ringan serta sedikit sambutan dan pesan dari pejabat Pemerintah oleh yang mewakili, yang sudah pasti biaya perjalanan dinasnya itu melambung tinggi nilainya dari bantuan yang diberikan. Warga hanya gigit jari dan mendengar di sejumlah media masa yang berkoar-koar mempublikasikan kepedulian Pemerintah mengirimkan bantuan puluhan hingga ratusan juta rupiah serta logistic dan obat-obatan bagi yang terkena musibah di Riau, Serui, Teluk Wondama, dan lainnya.

Dengan perasaan yang hancur mereka kembali membangun 2 jembatan kayu mereka yang putus diterjang tsunami dengan cara swadaya apa adanya yang penting mereka bisa melintas di atasnya. Kini ketika mereka diperhadapkan dengan pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah, mereka bingung? “kami diwajibkan memilih, tapi memilih pun nasib kami tetap begini, tidak pilihpun nasib kami tetap sama”. Sehingga jangan heran kalau doktrin aspirasi Papua Merdeka itu begitu subur tumbuh dalam sanubari mereka, sebagai solusi akhir untuk keluar dari penderitaan mereka.**

* Penulis adalah Wartawan  SKHU Bintang Papua
4 April 2011

Posted via email from SPMNews' Posterous

Massa Pro ‘M’ Siap Demo - Titik Kumpul Makam Theys, Abepura, dan Taman Imbi

JAYAPURA—Momen 1 Mei kemarin merupakan hari integrasi Papua ke NKRI yang oleh kelompok tertentu menyebutnya hari Aneksasi Papua Barat  ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mengingat 1 Mei kemarin bertepatan hari Minggu, maka perayaannya diundur satu hari, yakni 2 Mei hari ini dalam bentuk aksi damai oleh kelompok Pro Merdeka (pro M).  Ribuan massa dari Komite Nasional Papua Barat (KNPB) didukung berbagai komponen, seperti faksional pergerakan perjuangan Papua Barat, direncanakan turun jalan (maksudnya: menggelar aksi demo damai) di Kantor DPR Papua dan Kantor Gubernur, Jayapura, Senin (2/5) pukul 08.00 WIT    Wakil Ketua KNPB Mako Tabuni yang dihubungi Bintang Papua semalam membenarkan rencana aksi demi damai guna memperingati Hari Aneksasi Banga Papua Barat kedalam NKRI.
Dia mengatakan, pihaknya akan menyampaikan aspirasi kepada pemerintah RI melalui DPR Papua dan Gubernur Provinsi Papua untuk meluruskan Perjanjian New York (New York Agreement) dan meninjau kembali Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) yang sangat merugikan Bangsa Papua Barat baik dari aspek politik maupun hukum.

Dijelaskan, aksi demo damai tersebut direncanakan  diikuti massa pergerakan perjuangan Papua Barat yang datang dari Manokwari, Sorong, Biak, Merauke, Sarmi, Keerom dan lain lain.
Menurut dia, aksi demo damai tersebut dengan Titik Kumpul di Sentani di  Makam Theys, Titik Kumpul Abepura di Depan Kantor Pos Abe serta Titik Kumpul Jayapura di Taman Imbi mulai pukul 08.00 WIT.  

Ditanya apakah pihaknya telah  mengantongi  izin resmi dari aparat kepolisian terkait aksi demo damai, dia menandaskan, pihaknya telah mendapatkanizin resmi dari Kepolisian setempat kerena aksi demo ini adalah aksi damai untuk menyampaikan aspirasi  Bangsa Papua Barat kepada pemerintah RI melalui DPR Papua dan Gubernur Provinsi Papua. 

Dia menandaskan, tanggal 1 Mei 1963 adalah Aneksasi Banga Papua Barat kedalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah awal pembunuhan embrio berbangsa dan  bernegara bagi rakyat Papua Barat.

Akibatnya, ujar dia,  nasib masa depan rakyat Papua Barat benar benar terancam  kepunahan (genocide) dari atas Tanah Warisan Leluhurnya. Yang ada dan dinikmati oleh rakyat Papua adalah dibunuh, dibantai, digusur, diperkosa hak dan martabat, diskriminasi, marginalisasi dan cucuran darah dan air mata oleh kejahatan keamanan negara RI. Sadar tak dasar martabat dan harga diri kita diinjak injak.

Semua demi kepentingan negara negara kapitalisme yang lebih mengutamakan emas,k kayu, munyak dan seluruh kekayaan alam yang ada diatas Tanah Papua dan manusia Papua (Ras Melanesia) yang  Allah ciptakan segambar dan serupa Allah. Supaya setiap manusia dapat hidup saling menghargai hakl setiap suku bangsa.

“Maka mari datang bergabung kita tunjukan harga diri kita  sebagai anak negeri Bangsa Papua Barat. Nasib negeri ini ada padamu kini untuk menentukan ribuan nasib anak cucu kedepan,” ujarnya. (mdc/don)

Minggu, 01 Mei 2011 16:32

, ,

Posted via email from West Papua Merdeka News

Lomba Lari 10 K Semarakkan Peringatan 1 Mei di Keerom

Ditulis oleh (rhy/aj/acowar  

Sekda Keerom,Drs.Yerry F.Dien saat mengangkat bendera sebagai dimulainya lomba Lari MarahtonARSO – Salah satu kegiatan menyambut hari kembalinya Irian Jaya Barat Ke Pangkuan Negara Kesatuan Republin Indonesia (NKRI) 1 Mei  2011, di Kabupaten Keerom diselenggarakan lomba lari 10 kilometer.

Lomba tersebut diikuti mulai dari berbagai kalangan, seperti  TNI, Polri dan Masyarakat. Dari pantuan Bintang Papua, terlihat ada juga dari kalangan anak-anak yang juga ikut berbartisipasi dalam lomba lari tersebut, baik laki-laki maupun perempuan.

Lomba  lari 10 K  yang mengambil Star di kilometer 9, Arso 1 dan finish di Halaman Kantor Bupati Keerom, dibuka oleh Sekda Keerom,Drs.Yerry F.Dien, yang dalam sambutannya mengajak seluruh komponen masyarakat untuk selalu menjalin persatuan dan kesatuan untuk membagun Kabupaten Keerom.

“Diharapakan kepada masyarakat agar dapat saling bersatu padu demi tercapainya Kabupaten Keerom yang sejahterah,” harapnya. (rhy/aj)

Minggu, 01 Mei 2011 17:18

,

Posted via email from SPMNews' Posterous

Peringatan 1 Mei Dirangkai Ibadah

Written by Eka/Papos  

SENTANI [PAPOS]-Sejarah mencatat bahwa pada tanggal 1 Mei tahun 1963 Irian Barat yang saat ini diganti nama menjadi Papua resmi berintegrasi ke Negara Kesatuan Republik Indonesi [NKRI] atau menjadi bagian NKRI, sehingga sejarah itu, terus dikenang dan diperingati setiap tahun oleh masyarakat Papua.

Meskipun sejarah itu, dikenang setiap tahun, namun sebagaian masyarakat Papua tidak mengakui sejarah tersebut, bagi mereka sejarah tersebut di rekayasa. Seperti disampaikan Ketua Dewan Adat Papua Forkorus Yaboisembut S.Pd kepada wartawan di Sentani beberapa hari lalu.

Menurut Forkorus Yaboisembut, sejarah tersebut harus diklarifikasi, sebab dinilai cacat hukum. “Bagi kami anak bangsa Papua, masuknya Papua ke NKRI bukan berintegrasi tetapi dianeksasi atau kata lain penggabungan politik secara paksa, oleh Bangsa Indonesia melalui operasi Trikora dengan penuh intimidasi. Oleh sebab itu, jika bangsa Indonesia memperingati 1 Mei sebagai hari berintegrasinya Papua ke NKRI, maka masyarakat Papua memperingatinya sebagai hari Aneksasi Papua ke NKRI,“ujar Forkorus Yaboisembut.

Dikatakan, bagi orang Papua yang tau betul sejarah tanggal 1 Mei itu, bukan hari berintegrasi Papua ke NKRI tapi Aneksasi bangsa Papua ke NKRI oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1963.

Forkorus mengatakan bagi bangsa Papua tanggal 1 Mei dirayakan sebagai hari aneksasi bangsa Papua ke Indonesia, sehingga mungkin tidak dirayakan seremonial tetapi bangsa Papua mengheningkan cipta sejenak sambil berdoa kepada Tuhan terhadap nasib dan perjuangan Bangsa Papua selanjutnya untuk menuntut hak-hak politiknya kedepan agar kembali sebagai sebuah bangsa yang bebas untuk menentukan nasibnya sendiri.

Untuk itu, DAP tetap memberingati hari tersebut dengan persi DAP, sehingga dihimbau kepada semua Bangsa Papua untuk merenung sebentar dan berdoa kepada Tuhan memohon campur tangannya guna eksistensi perjuangan bangsa Papua.

Ketika disinggung tentang perjuangan DAP dalam memperjuangan hak-hak Poitik bangsa Papua. Forkorus mengatakan bahwa perjuangan tetap berjalan dan saat ini sedang dilakukan gerakan-gerakan diluar Negeri oleh National Parlemen West Papau [NPWP] dan Internationa Parlemen West Papua [IPWP], direncanakan bakal ada sebuah agenda penting yang akan dilakukan oleh kedua organsiasi perjuangan itu di luar Negeri guna kemajuan Papua.[eka]

Saturday, 30 April 2011 00:00

, , ,

Posted via email from SPMNews' Posterous

Saturday, 20 November 2010

Status Politik Papua di PBB Diperingati

JAYAPURA—Tanggal 19 November 1969 dikenal  sebagai tahun dimana sejarah Tanah Papua di perdebatkan di PBB dan Internasional. Untuk Papua tanggal 19 November 2010 dianggap ‘keramat’ oleh  sejumlah elemen elemen perjuangan Papua Merdeka   yang sejak  Jumat pagi, (19/11) bersama  kelompok Petapa atau penjaga Tanah Papua kembali mengenang saat dimana sejarah Papua diangkat dalam kongres Amerika.

Adanya  lampu hijau tentang agenda Papua yang dibicarakan dalam kongres Amerika, meski tak jelas  apakah kongres Amerika secara terang- terangan mendukung kedaulatan  Papua sebagai suatu   nega­ra atau tidak, tidak diterangkan secara  jelas.

Koordinator Umum aksi demo damai sosialisasi Congress Of the United State House Of Representatives Washington DC 20313 Wilson Waimbo Uruwaya  menyatakan rencana mereka  itu di kantor MRP kemarin,   dia bersama semua elemen perjuangan Papua yang ada di Jayapura akan melakukan demo ke DPRP  dengan satu tujuan mendukung semua alternatif/ solusi terbaik penyelesaian damai masalah status Politik Papua Barat tahun 1969 yang diperebatkan dalam sidang Umum PBB 1969 dan dinyatakan sebagai” Satatus Politik Papua yang Mengambang di PBB dan Internasional.

Menurut keterangan Wilson Uruwaya, semua elemen perjuangan rakyat Papua telah bersatu untuk mensosialisasikan hasil kongres Amerika  yang baru  berakhir 22 September 2010 telah diadakan acara dengar pendapat di kongres tentang kejahatan terhadap kemanusiaan oleh Sub Komite Asia Pasifik dan lingkungan global untuk mencarikan solusi dalam mengatasi masalah serta situasi sulit yang dihadapi Bangsa Papua Barat hari hari terakhir ini.

Dalam  kutipan laporan kongres Amerika yang tertulis, saat ini untuk pertama kalinya dalam kongres, pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Papua Barat menjadi sorotan utama yang menyebabkan Bangsa Papua mendekati titik hasil dalam sejarah.

Dengan adanya Pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi begitu lama dan panjang di Papua Barat, perlu mendapatkan perhatian dan pengakuan pihak Internasional dan penghargaan terhadap hak hak  orang Papua Barat.

Surat khusus kongres Amerika yang ditanda tangani Sheila Jackson Lee dari Congreess Women yang ditujukan kepada Profesor Kurtz dari Universitas George Mason bersama Herman Wanggai yang telah memasukkan Sheila Jackson Lee dalam kongres Amerika. Konon Sheila Jackson Lee adalah seorang perempuan Politisi dari Partai Demokrat Amerika yang memasukkan Barak Obama dalam  barisan Partai Demokrat Amerika dan berhasil meloloskannya dalam pencalonan Presiden Amerika.

Isu- isu tersebut diagendakan dan harus diusahakan jalan keluarnya, karena telah mengabaikan Papua Barat. “ Ini adalah harapan saya yang tulus bahwa harus ada upaya hentikan tindakan Militer Indonesia dan Pemerintah yang tidak adil, keadaan ini harus direformasi terhadap pelanggaran pelanggaran itu”.  Secara khusus kami mau harus ada peningkatan kesadaran untuk nasib orang Papua Barat dalam hubungannya dengan kelambanan aktor Internasional, maka situasi disana akan kian memburuk sebab bagaimanapun, sejarah Papua Barat berhubungan dengan Amerika Serikat.

Mengutip peryataan Sheila Jackson Lee dalam kongres tersebut, yang terungkap bahwa sesudah konferensi tersebut, pihaknya masih akan bertemu lagi dalam waktu dekat untuk bekerja sama dengan pihak keamanan Internasional agar mengamankan Papua Barat.  (Ven )

Posted via email from SPMNews' Posterous