Papua Merdeka News

Papua, Irian Jaya, Western New Guinea News Feeder

Telp:+675-78213007 (WA)
Email: tofreemalensia@gmail.com
Mail. Mail: 635 Vision City, NCD, POM,Papua New Guinea
Showing posts with label kampanye Papua Merdeka. Show all posts
Showing posts with label kampanye Papua Merdeka. Show all posts

Saturday, 15 May 2021

Catatan Bung Iwan Penthol - "HOMRATKU UNTUK TPNPB-OPM"


Hormat untuk kalian yang bertahan dihutan (TPNPB-OPM), digunung yang terus berjuang, aku menundukkan kepala dengan takjub. Kalian adalah orang-orang yang mempunyai kesadaran tertinggi dalam berjuang..level sebuah kesadaran yang tidak kami daptkan disini.

Perjuangan kalian dalam membebaskan diri dari bentuk kolonialisasi yang di kemas lewat jargon kosong nasionalisme-NKRI, tak lebih dari kedzoliman kapitalisme/imperialisme yang tengah dijalankan oleh rezim bonekanya di indonesia. 

Perjuangan yang membutuhkan militansi yang sangat tinggi, kesadaran yang melampaui intelektual di negri kami. Mengapa?. Karena disini kami masi dalam takaran memperdebatkan sebuah platform, sebuah isu anti imperialis/kapitalis & borjuasi reformis gadungan boneka dari imperialis. Tapi kau!, sudah melampaui kesadaran kami, sebuah tindakan nyata, kongkrit hasil dari kesimpulan dari literatur lusinan buku-buku progresif. meninggalkan semua akan subyektifisme.

Cita-cita yang cukup mulia dari takdir sejarah yang memang harus kau lakukan untuk mendapatkan tanah air merdeka Papua.

Disini hanya segelintir manusia sadar..sisanya gerakan sampah & kami masih terus belajar memahami literatur-literatur yang ada di buku untuk sebuah pembebasan. Sedangkan sisa manusianya disini tidak pernah terbongkar kesadarannya dalam berjuang, asik dengan kemiskinannya kerja cari duit...kerja cari duit, itulah cerminan dari manusia disini yg Ahli dalam Menderita, keburu tunduk pada penindasan selama faedahnya belum dirampas. Karna itu rasa takjubku pada kalian yang mengangkat senjata dalam berjuang, menjadi catatan terpenting dalam sejarah yang terus bergerak maju.

Mereka yang bilang kalian frustasi, sebetulnya adalah mereka yang disini yang frustasi karna tak melakukan apa-apa dalam sistem penindasan selama ini, selain hanya berkonsultasi pada rumah akademiknya yang tak memberikan solusi apapun juga.

Hormatku sekali lagi buat kalian cukup dalam. Hidup Sosialisme, Hidup Perjuangan bagi rakyat tertindas. Salam Pembebasan! 

Hidup Perjuangan Rimba Hutan, yakni Perang TPNPB-OPM yang selalu eksis melawan kekuasaan yang menindas

Saturday, 5 December 2020

Heboh, Mahasiswa Kristen Dukung Papua Merdeka, Mustofa: Mendidih Gak Nonton Video Ini

Kongres XXXVII GMKI yang meminta pemerintah pusat mengembalikan
Papua kepada orang Papua sendiri /

Hingga kini, saya sama sekali gak denger respon mereka. 

Ayo @eko_kuntadhi @yusuf_dumdum @Dennysiregar7 @PartaiSocmed @digeeembokFC @psi_id mana suaramu? https://t.co/Z2eewRrlHy— MUSTOFA NAHRAWARDAYA (@TofaTofa_id) December 5, 2020

Bahkan dalam cuitan sebelumnya Mustofa meminta masyarakat untuk waspada dengan dukungan mahasiswa Kristen terhadap Papua Merdeka.

 Ia mengungkapkan, dirinya merasa ada upaya adu domba antar kelompok di NKRI ini, sebab menurutnya, tidak mungkin mahasiswa NKRI mendukung Papua Merdeka

"Saya kok merasa ada adudomba antar kelompok di NKRI ya. Mana mungkin mahasiswa NKRI dukung Papua Merdeka. Pasti ini adudomba. Mungkin otaknya OPM. Waspadalah..waspadalah. Ini tweet serius banget. Bukan sindiran. Percayalah!!!!," tulis Mustofa juga.

Sebelumnya beredar sebuah video dalam acara Kongres XXXVII GMKI yang meminta pemerintah pusat memberikan hak penentuan nasib orang Papua.**

Editor: Andriana

Sumber: Twitter 

Tuesday, 1 December 2020

PP Muhammadiyah Minta Pemerintah Fokus Hadapi Gerakan Separatis Papua

 TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Pimpinan Pusat atau PP Muhammadiyah Anwar Abbas mengimbau pemerintah fokus menghadapi gerakan separatis Papua dengan pendekatan soft berupa dialog hingga militer.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (peci hitam baju batik), Sekretaris Jenderal PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti (tengah), Ketua Bidang Hubungan Internasional PP Muhammadiyah Muhyidin Juanedi (peci hitam), saat konferensi pers di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Senin, 16 Desember 2019. Tempo/Egi Adyatama

"Karena kalau pemerintah tidak bersungguh-sungguh dalam menghadapi masalah ini, maka tidak mustahil Papua dan Papua Barat akan bisa bernasib seperti Timor Timur," kata Anwar dalam keterangan tertulis, Senin, 30 November 2020.

Anwar mengatakan situasi di Papua saat ini harus mendapat perhatian serius dari semua pihak. Sebab, apa yang terjadi di sana sekarang telah mengancam persatuan dan kesatuan sebagai bangsa. "Mereka telah menyatakan dirinya ingin keluar dari NKRI dan membentuk negara sendiri, yaitu negara Papua," ujarnya.

Selain itu, negara-negara dunia internasional juga terang-terangan maupun diam-diam telah memberikan dukungan untuk berdirinya negara Papua. Untuk itu, kata Anwar, persatuan dan kesatuan bangsa haruslah kuat untuk dapat menghadapi hal tersebut.

Ia menyarankan agar hal yang tidak begitu penting harus dikesampingkan dulu agar energi dan tenaga sebagai bangsa tidak terkuras. "Kalau hal itu terjadi maka kelompok separatis akan menang dan tertawa, karena mereka sudah bisa lepas dan terbebas dari negara Republik Indonesia serta membentuk negara sendiri dan kita jelas tidak mau itu terjadi," kata Ketua PP Muhammadiyah Anwar.

FRISKI RIANA

Thursday, 19 November 2020

400 Akun Palsu Bahasa Belanda, Inggris dan Jerman Menyebarkan Propaganda Papua di Belanda

 

Akun mediso sosial. (Ilustrasi Forbes).

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Nederlandse Omroep Stichting (NOS), salah satu media online yang berbasis di Belanda melaporkan bahwa lebih dari empat ratus (400) akun palsu memposting dan menyebarkan propaganda tentang Papua Barat di Twitter, Facebook, Instagram dan YouTube.

Hal itu disebut NOS sebagai tentara Bot Indonesia, yang mana dalam setiap laporannya dan postingannya bahwa mereka (tentara bot) bersikeras supaya Papua Barat agar tidak merdeka.

Tentara bot menyebarkan propaganda tentang Papua Barat di Twitter, Facebook, Instagram, dan YouTube. Ini menyangkut lebih dari empat ratus akun palsu yang memposting pesan di media sosial dalam bahasa Belanda, Jerman, Inggris, dan Indonesia.

Jika menemukan papilloma seperti ini, waspadalah!

“Di hampir setiap laporan mereka bersikeras bahwa Papua Barat tidak boleh merdeka. Sebaliknya, mereka menunjuk terkait otonomi khusus untuk provinsi tersebut,” kata sumber yang mengakui guru Peter Burger dari Universitas Leiden, yang menemukan akun palsu tersebut sebagaimana dilansir dari NOS Belanda, Selasa (10/11/2020).

Papua Barat telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia selama setengah abad, tetapi pemerintah Indonesia mendorong perpanjangan undang-undang otonomi pada tahun 2021. Pemerintah malah menindak pemrotes dari orang Papua.

Menurut pakar berita palsu Burger, bot adalah bukti pertama yang terlihat di negara kita tentang pengaruh politik terkoordinasi dari luar negeri yang menggunakan pesan berbahasa Belanda.

Menteri Kajsa Ollongren telah memperingatkan terhadap kampanye semacam itu di platform media sosial untuk beberapa waktu, tetapi hanya mengutip situs berita palsu Rusia yang menyebarkan disinformasi tentang MH17.

 Kolektif penelitian Bellingcat juga menemukan hal serupa di Indonesia pada tahun lalu, yang sebagian besar menyebarkan pesan dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Akun palsu telah dihapus oleh platform media social, tetapi kampanye pengaruh rahasia baru belum terdeteksi oleh perusahaan teknologi.


Akun palsu dengan foto palsu

Sekitar setengah dari empat ratus akun aktif di Twitter, foto profil yang dimiliki akun, 35 foto – dari sampel seratus foto – tampaknya telah disusun oleh komputer, catat 3DUniversum, perusahaan Amsterdam. Jadi orang-orang di foto itu tidak ada.

Foto palsu semacam itu adalah fenomena yang relatif baru. Orang-orang yang ada pada foto profil berpenampilan orang barat, namun ternyata sekitar 70 persen tweet tersebut dikirim dari server di Papua dan daerah lain di Indonesia. Jika melihat statistik, jumlah tweet benar-benar runtuh di Indonesia.

“Saya hanya bisa memikirkan satu pihak yang mendapat manfaat dari pesan-pesan ini dan itu adalah pemerintah Indonesia,” kata aktivis Raki Ap.

Dia berjuang dari Belanda untuk kemerdekaan Papua Barat dan menyebut laporan tentara bot “mengejutkan dan brutal”. Meskipun ada permintaan berulang kali oleh Kedutaan Besar Indonesia yang tidak menanggapi.

Tentara bot dipetakan

Nieuwsuur memiliki tentara bot yang dipetakan di Twitter oleh Universitas Amsterdam. Sebagian besar akun telah dibuat sejak Juni. Akun tersebut telah memposting hampir 45.000 tweet, 12.000 di antaranya dalam bahasa Belanda.

Oleh karena itu, dampak dari tentara bot dapat disebut kecil. Twitter telah menghapus sekitar setengah dari akun palsu akhir pekan ini, setelah ditunjukkan oleh Nieuwsuur. Namun, sementara itu, tampaknya puluhan akun palsu baru telah dibuat.

Platform ini memiliki kampanye pengaruh ke negara negara. Facebook telah menghapus contoh yang diberikan oleh Nieuwsuur dan tiga akun lain yang ditemukan oleh platform itu sendiri.

“Kami telah mengambil tindakan terhadap sejumlah akun yang melanggar kebijakan kami,” kata seorang juru bicara. Sementara Facebook masih mengerjakan penelitian lebih lanjut. Namun, lebih dari 150 akun bot di Facebook, dan Instagram belum terdeteksi oleh platform itu sendiri.

Semua akun bot sekarang dapat ditemukan di ikhtisar ini.

 YouTube mengatakan sebagai tanggapan bahwa moderator platform masih menyelidiki video yang diposting oleh akun palsu tersebut.

“Kami akan mengambil tindakan yang sesuai jika kami menemukan pelanggaran terhadap aturan YouTube.”

 


Editor: Elisa Sekenyap

Saturday, 7 November 2020

Veronica Koman: Rakyat Butuh Kebenaran Soal Papua Barat

 

Veronica Koman, Tokoh Revolusi West Papua

Aktivis Papua Barat dan pengacara hak asasi manusia Indonesia Veronica Koman, mengkritik tindakan keras militer baru-baru ini di dua provinsi di Papua dan Papua Barat, dalam webinar yang diselenggarakan Selandia Baru pada akhir pekan.

Pemerintah Indonesia sedang mencoba untuk mencegah pemberontakan seperti tahun lalu, ketika pemberontakan itu melawan rasisme dan penentuan nasib sendiri, itulah yang terjadi di lapangan,” ujar pengacara di pengasingan Veronica Koman, dikutip Pacific Media Watch.

Dia juga menyoroti beberapa temuan dari laporan terbaru dari kelompok hak asasi manusia Indonesia yang berbasis di London TAPOL, West Papua Uprising 2019, dan mengatakan rakyat menginginkan kebenaran.

Laporan tersebut mengatakan bahwa lebih dari 40.000 penduduk asli Papua Barat telah mengungsi karena tindakan keras militer. Dan lebih dari 300 orang telah meninggal.

Pemberontakan Papua Barat juga mengungkapkan bahwa sebagian orang diduga dibunuh oleh militer Indonesia, sebagian meninggal karena gizi buruk, dan sebagian lainnya karena sakit di kampung-kampung pengungsi.

Koman mengatakan, jumlah korban yang tercatat dalam laporan itu lebih sedikit dari jumlah sebenarnya.

Krisis Papua Barat (khususnya di wilayah Nduga dan Intan Jaya), sekarang menjadi perhatian utama sejak pendeta ketiga terbunuh, menurut Victor Yeimo, juru bicara internasional untuk Komite Nasional Papua Barat (KNPB), sebuah organisasi perlawanan sipil yang memobilisasi dan mengadvokasi Hak Papua Barat untuk menentukan nasib sendiri atas kemerdekaan.

Pembicara webinar lainnya adalah Ronny Kareni, seorang musisi dan aktivis Papua Barat, dan seorang pekerja muda pelibatan komunitas yang berbasis di Australia. Webinar #PapuanLivesMatter ini dimoderatori oleh mantan anggota parlemen Hijau Catherine Delahunty dan diskusi dibuka pada hari ulang tahunnya kemarin.

Kasus Veronica Koman: Saat Kebebasan Dipetimatikan

Veronica Koman. (Foto: ACFID/ Indonesia Melbourne)

KAMPANYE INTERNASIONAL

Grup West Papuan Action Auckland menyelenggarakan webinar dengan topik situasi politik saat ini, penolakan terhadap rencana “otonomi khusus” oleh Indonesia, dan kampanye untuk membebaskan Papua Barat di lapangan dan internasional.

Dalam sesi pembukaan, Delahunty menjelaskan bahwa informasi yang dibahas dalam webinar tersebut akan digunakan untuk pendidikan politik Aotearoa Selandia Baru dan politisi lokal yang “sangat lamban” mengangkat isu HAM dan kemerdekaan Papua Barat.

“Sekarang, seperti yang Anda ketahui, situasi di Papua Barat telah menjadi sangat serius selama bertahun-tahun dan terus menjadi masalah besar. Dan pentingnya gerakan solidaritas di seluruh dunia ini tidak bisa dianggap remeh,” ucap Delahunty, dilansir dari Pacific Media Watch.

Victor Yeimo mengatakan, pembunuhan baru-baru ini terhadap seorang katekis Katolik di Intan Jaya telah menambah keresahan bagi penduduk asli Papua Barat.

“Dalam tiga bulan terakhir kami melihat bahwa militer Indonesia telah menembak pendeta kami dan juga seorang katekis Katolik,” imbuhnya.


PENENTANGAN TERHADAP ‘OTONOMI KHUSUS’

Kareni, Koman, dan Yeimo mengatakan, status “otonomi khusus” yang diberlakukan Indonesia bukanlah solusi bagi aspirasi masyarakat adat Papua Barat.

Kebanyakan orang Papua menolak undang-undang Otonomi Khusus dan menginginkan referendum kemerdekaan.

“Saat ini sudah ada 90 organisasi yang ikut atau menandatangani petisi referendum. Webinar, seminar, dan pernyataan pers terus berlanjut dari hari ke hari untuk menolak perpanjangan otonomi khusus di Papua Barat,” ungkap Yeimo.

Koman mengatakan, otonomi khusus merupakan bagian dari praktik penjajahan Indonesia terhadap masyarakat adat Papua Barat.

“Otonomi khusus telah digunakan oleh Indonesia untuk menutupi kolonialisme, dan kolonialisme tetap menjadi senjata. Inilah yang sebenarnya sedang diciptakan Indonesia, perang kelas antara elit Papua Barat melawan akar rumput,” tutur Koman, dinukil dari Pacific Media Watch.

Kareni menuturkan, status otonomi khusus dijadikan kampanye oleh pemerintah Indonesia.

Hal itu selalu dijadikan propaganda pemerintah di forum internasional, dengan mengatakan bahwa masyarakat Papua Barat diberi hak penuh untuk mengatur diri sendiri melalui undang-undang otonomi khusus, sehingga yang dibutuhkan masyarakat Papua adalah lebih banyak pembangunan, katanya.

“Dalam 10 tahun ‘otonomi khusus’, masyarakat Papua Barat menolaknya dan juga membuat pengumuman besar bahwa itu telah gagal, dan sekarang kita memasuki dua dekade. Dan sekarang (pemerintah Indonesia) ingin memperluasnya lebih jauh.”


DAMPAK BESAR PADA MASYARAKAT

“Ini hanya untuk melanjutkan kepentingan mereka yang lebih besar (atas) investasi asing ekonomi di kawasan, dan itu akan berdampak besar pada martabat, tanah, dan juga lingkungan dan setiap masalah yang kita bicarakan hari ini.”

Meski Koman dan Yeimo adalah orang “paling dicari” oleh pemerintah Indonesia, mereka tetap konsisten aktif dan sangat mempertaruhkan nyawa mereka dalam mengkampanyekan penentuan nasib sendiri untuk rakyat Papua Barat.

Koman menyoroti hasil kerja advokasinya dalam menyebarkan informasi, nyawanya terancam di Indonesia.

Meski menghadapi risiko ini, ia terus mengadvokasi isu tersebut di tingkat internasional.


“Saya memiliki misi pribadi. Kenapa saya fokus menyebarkan informasi tentang Papua Barat karena saya berasal dari sana,” ujarnya, dikutip Pacific Media Watch.

“Saya dulu orang yang sangat nasionalis dan itu karena saya tidak tahu apa-apa tentang Papua Barat. Dan saya percaya bahwa rakyat Indonesia tidak tahu apa yang sedang terjadi, itulah mengapa saya pikir Papua Barat tidak membutuhkan propaganda apa pun.”

“Rakyat hanya butuh kebenaran tentang apa yang terjadi di Papua Barat,” ujarnya menekankan.

Victor Yeimo dan Veronica Koman sama-sama mengatakan bahwa gerakan solidaritas untuk Papua Barat di Indonesia semakin kuat.

“Itu juga terjadi di seluruh dunia,” tutur Kareni.

Panel webinar ini mengajak orang-orang Aotearoa Selandia Baru, orang-orang di Pasifik, dan lainnya di seluruh dunia, untuk bergabung dalam perjuangan solidaritas Papua Barat, Pacific Media Watch melaporkan.

Penerjemah dan editor: Aziza Larasati


Keterangan foto utama: Seorang anak laki-laki membantu membentangkan bendera nasionalis Papua Barat, yang dikenal sebagai Bintang Kejora. (Foto: Francesco Vincenzi/IPS)