Papua Merdeka News

Papua, Irian Jaya, Western New Guinea News Feeder

Telp:+675-78213007 (WA)
Email: tofreemalensia@gmail.com
Mail. Mail: 635 Vision City, NCD, POM,Papua New Guinea
Showing posts with label kolonialisme. Show all posts
Showing posts with label kolonialisme. Show all posts

Saturday, 24 October 2020

John Anari: Memenuhi Janji Dekolonisasi

Di sebagian besar dunia, pembicaraan tentang kolonialisme memunculkan gambaran tentang masa lalu yang jauh. Tetapi proses dekolonisasi yang menandai begitu banyak sejarah dunia pada pertengahan dan akhir abad ke-20 masih belum berakhir. Menjelang akhir Dekade Internasional Ketiga (ya, ketiga!) Untuk Pemberantasan Kolonialisme, mari kita lihat lebih dekat apa yang sedang dilakukan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mencapai janjinya tentang dekolonisasi.

APA ITU "DEKOLONISASI" DAN KENAPA KITA MASIH BERBICARA TENTANG ITU?

Kelahiran Perserikatan Bangsa-Bangsa 75 tahun lalu adalah bagian dari transformasi mendasar cara dunia diatur. Pada tahun 1945, sekitar 750 juta orang, hampir sepertiga dari populasi dunia pada saat itu, tinggal di wilayah yang bergantung pada kekuatan kolonial. Sejak 1945, lebih dari 80 bekas jajahan telah merdeka. Dekolonisasi, yang mengubah wajah planet ini, merupakan salah satu keberhasilan besar pertama PBB.

Namun proses dekolonisasi belum selesai. Masih terdapat 17 Non-Self-Governing Territories (NSGTs), dengan total populasi 1,6 juta orang. NSGT terakhir yang mengubah statusnya adalah Timor-Leste, yang pada tahun 2002 menjadi negara berdaulat baru pertama di abad ke-21, setelah tiga tahun pemerintahan transisi PBB.

Apa yang dilakukan PBB tentang dekolonisasi?

Perserikatan Bangsa-Bangsa memantau kemajuan menuju penentuan nasib sendiri di Wilayah, sebagaimana diamanatkan oleh Deklarasi Pemberian Kemerdekaan kepada Negara dan Rakyat Kolonial, yang diadopsi oleh Sidang Umum pada tahun 1960. Deklarasi tersebut menegaskan hak semua orang untuk menentukan nasib sendiri dan memproklamasikan bahwa kolonialisme harus diakhiri.

Mengapa Penambangan Freeport Indonesia dapat menghapus Papua Barat dari daftar Dekolonisasi (Non Self-Governing Territories)?

Sumber: FB

Friday, 18 October 2019

REALITA:: Dari Rasisme berubah menjadi Suku makan Suku

Warpo Sampari Warik Wetipo is with Mambri Sampari and 48 othees
2 OAP pembunuh OAP, bangga apa kkalian?
DARI RASISME berubah menjadi SUKU MAKAN SUKU (Papua bunuh Papua). Itulah Indonesia raya, Liciknya negara Penjajah colonial indonesia.

Meloloskan diri, dari ancaman internasional terkait Krisis kemanusiaan (pemusnahan), pelanggaran HAM terbesar terhadap ras, suku, dan bangsa tertentu.

Nanti ada perang serius Di Papua baru Topengnya maju duluan. Yang penting Nyawa_Nya dibayar dengan Sebatang Rokok.

Kita tidak sadar, kalau kita bunuh atas nama NKRI adalah Saudaranya sendiri, adiknya/ kakaknya, Om sendiri, generasinya sendiri. Padahal Kita tidak tahu, kalau jakarta hanya membuat kita seperti Robot, Topeng atau Boneka. Yang Jakarta cari adalah : Pangkat, Jabatan, Makan dan Minum sehari-hari.

Sedangkan Yang Pegang Remot NKRI adalah negara-negara Kapitalis dan Imperialis yang punya saham di West Papua, seperti Amerika yang sedang kelola PT. Freeport Indonesia.

Kita (Papua) baku pukul, hanya karena tulang kecil, dos rokoknya, botol birNya, kaleng saurisnya, plastik migorengnya...............

Kita (Papua) sedang Punah, mati kawanku.

#SADAR_PAHAM_BANGKIT_BERSATU_LAWAN_SISTEM_PERBUDAKAN_COLONIALISME_Indonesia.

Rawa Grimenawa, Kamis17 Oktober 2019
By.Warpo Sampari Warik Wetipo.

Friday, 7 October 2016

Melawan Hegemoni Kolonialis

Apa sebab Indonesia bisa dijajah cukup lama oleh kolonialisme Belanda? Banyak orang yang bilang, Indonesia kala itu kalah unggul di bidang teknologi, khususnya teknologi kemiliteran. Juga karena kolonalisme menguasai pengetahuan modern kala itu. Penjelasan itu ada benarnya, tetapi belum memadai. Belanda hanyalah negeri kecil di Eropa sana; luasnya hanya seperempat pulau Jawa. Sedangkan luas Indonesia […]

from WordPress http://ift.tt/2djHCh5
via IFTTT