Papua Merdeka News

Papua, Irian Jaya, Western New Guinea News Feeder

Telp:+675-78213007 (WA)
Email: tofreemalensia@gmail.com
Mail. Mail: 635 Vision City, NCD, POM,Papua New Guinea
Showing posts with label penculikan. Show all posts
Showing posts with label penculikan. Show all posts

Friday, 15 May 2015

11 Perkerja Jalan Disandera di Lanny Jaya ukuran huruf Cetak Email Jadilah yang pertama!

JAYAPURA – Sebanyak 11 orang Karyawan PT. Timur Laut Papua yang bekerja pada pembangunan jalan antara Kabupaten Lanny Jaya - Kabupaten Tolikara, Papua disandera masyarakat kampung Bunom, Distrik Milimbo, Kabupaten Lanny Jaya pada Minggu 10 Mei 2015. Dari data yang diperoleh Bintang Papua, aksi penyanderaan itu terjadi Minggu (10/5/2015) malam yang dilakukan kepala kampung Bunom, […]

from WordPress http://ift.tt/1Fhmsua
via IFTTT

Tuesday, 25 November 2014

Keluarga Korban Minta Jangan Ditutup-Tutupi

Keluarga Korban misteri hilangnya 17 orang di Mamberamo Raya, Ny. Regina Muabuai dan Hendri Muabuai didampingi TPFI Ny. Eni Tan, ketika bertemu Komnas HAM RI di Swiss-bel Hotel, Jayapura, 20 November lalu. JAYAPURA — Kasus hilangnya 17 penumpang Speedboat saat melakukan perjalanan dari Serui menuju Kabupaten Mamberamo Raya, masih terus dipertanyakan pihak keluarga korban. Mereka […]



from WordPress http://ift.tt/1C88BpU

via IFTTT

Keluarga Korban ‘Tantang’ Polda Gelar Perkara Bersama

Tim Pencari Fakta Independen (TPFI) Ny. Eni Tan menyerahkan hasil investigasi misteri 17 orang hilang dalam perjalanan ke Mamberamo Raya kepada Staf Komnas HAM RI Natalis Pigai di Swiss-bel Hotel, Jayapura, Kamis (20/11). JAYAPURA — Keluarga korban dan Tim Pencari Fakta Independen (TPFI) ‘menantang’ pihak Polda Papua melakukan bedah perkara, terkait misteri 17 orang hilang […]



from WordPress http://ift.tt/1y79REz

via IFTTT

Friday, 10 June 2011

Ada Rekayasa dan Konspirasi Dibalik Menghilangnya Speedboat dengan 17 Penumpang di Perairan Mamberamo Raya 2 Tahun Silam (Bag. 4/Habis)

DECKY IMBIRI Cs DIDUGA PENYANDERA 17 PENUMPANG SPEEDBOAT

Misteri hilangnya 17 penumpang speedboat 3 Maret 2009 yang di duga di sandera, pembunuhan Pdt. Zeth Krioman saat mengantar logistik Pemilukada ke Barapase 8 April 2009, dan peristiwa pendudukan dan pengibaran bendera Bintang Kejora di Lapangan Terbang Kapeso selama sebulan, 3 Mei 2009 – 4 Juni 2009 di duga sebagai satu rangkaian peristiwa yang tidak dapat dipisahkan, dimana pelaku serta tujuannya sama. Benarkah ada aroma konspirasi didalamnya, dan bukan murni inisiatif kelompok TPN – OPM ?

Oleh : Walhamri Wahid

Lelaki berperawakan sedang itu duduk menggelosor di lantai, celana loreng dengan baju kaos putih agak kumal membalut tubuhnya yang sedikit berisi, rambutnya rapi dengan potongan pendek, wajahnya terlihat sehat, kejujuran terpancar dari tatapan matanya yang tenang dan polos, kata demi kata meluncur mulus dari mulutnya menjawab semua pertanyaan wartawan tanpa harus berpikir dulu, karena ia mengaku berada dan menjadi bagian dari peristiwa yang tengah ia ungkapkan itu. Tidak ada nama, tidak ada foto atau gambar, hanya ada rekaman suara, itulah komitmen awal yang dibangun antara Bintang Papua dengan Sang Informan, setelah yakin ada jaminan untuk hal itu barulah akhirnya ia mau bercerita mengungkapkan apa saja yang ia ketahui.

“sekitar akhir February 2009 saya berada di Kasonaweja, pada suatu malam saat duduk nongkrong bersama teman – teman di suatu tempat, Decky Imbiri datang dan menghampiri kami dan mengatakan bahwa ia baru saja datang dari Serui bersama 6 (enam) rekan lainnya”, kata informan Bintang Papua memulai ceritanya siang itu, Kamis, 5 Mei 2011 di sebuah rumah di kawasan Waena Kota Jayapura.

Menurutnya Decky Imbiri menjabat sebagai Ka. Staff Ops TPN-OPM Kodam Jaya Wilayah Mamta, ia sendiri dalam kelompok TPN – OPM membawahi 9 (sembilan) anak buah dengan jabatan sebagai Komandan Regu.

“dimana Sekwan (Eduard Sasarawani-Red)”, tanya Decky Imbiri ketika itu yang dijawab tidak tahu oleh informan ini, lalu kemudian Decky Imbiri kembali bertanya, “dimana Pak Kabag Umum (Ishak Petrus Muabuay-Red) sebelum informan Bintang Papua ini menjawab, salah seorang rekannya menyela, “Ada di Serui”.

Sampai di situ, Decky Imbiri mencoba mengalihkan pembicaraan dengan mengajak informan dan beberapa rekannya yang ada di situ untuk ke Kampung Namunaweja esok hari sementara Decky Imbiri bersama 6 orang yang bersamanya dari Serui malam itu juga berangkat ke Namunaweja setelah mendapat bantuan bensin 1 drum dari pemuda Kasonaweja malam itu.

Keesokan harinya ia bersama sekitar 50 orang pemuda bergerak ke Kampung Namunaweja dan melakukan pertemuan dengan Decky Imbiri pada sebuah gereja, di dalam pertemuan itulah baru diketahui bahwa 6 orang yang bersama Decky Imbiri adalah 3 (tiga) orang utusan dari Fernando Warobay dan 3 (tiga) orang utusan dari Erick Manitori.

“dalam pertemuan itu Decky menyampaikan kami akan membuat kegiatan yang terfokus di Kapeso, dan saya ingat itu hari Kamis, keesokan harinya Jumat rombongan Decky Imbiri bertolak ke Kapeso, dan setelah bermalam semalam di Kapeso, hari Minggu rombongan Decky Imbiri melanjutkan perjalanan ke Teba – Warembori dan kembali bermalam, Selasa 3 Maret 2009 Decky Imbiri dan 6 orang yang bersamanya bergerak menuju Serui”, kata informan tersebut dengan mimik serius. Dan pada hari dan tanggal yang sama pula 17 penumpang speedboat yang di tumpangi Ishaak Petrus Muabuay di khabarkan hilang hingga kini.

Masih menurut informan Bintang Papua, bahwa setelah melakukan penyanderaan terhadap 17 penumpang speedboat rombongan Ishak Petrus Muabuay, Decky Imbiri dengan menggunakan speedboat yang telah dipersiapkan yang dibawa dari Nabire langsung kembali lagi ke Serui dan selanjutnya menuju ke Jayapura untuk bertemu dengan Panglima Besar TPN – OPM Kodam Jaya Wilayah Mamta (Richard Hans Yoweni) dengan sebelumnya menghanyutkan speedboat tersebut di daerah sekitar Demta dan Depapre Kabupaten Jayapura, yang kemungkinan speedboat inilah yang ditemukan dan dianggap sebagai speedboat yang di tumpangi 17 penumpang rombongan Ishak Petrus Muabuay.

Sedangkan para sandera, masih menurut informan, sepeninggal Decky ke Jayapura para sandera di tangani langsung dan di bawa oleh 6 orang yang bersama – sama Decky Imbiri yang dikenali sebagai utusan dari Fernando Warobay dan Erick Manitori itu.

“info yang saya dengar Panglima Besar TPN – OPM Richard Hans Yoweni tidak menyetujui rencana yang di rancang oleh Decki Imbiri sehingga ia kembali ke Serui dengan kapal putih kemudian di jemput dengan perahu motor tempel kepala hitam langsung menuju ke Kapeso”, ujarnya.

Sementara itu di hari yang sama juga, terjadi pendropan personel pemuda yang di rekrut dari kampung Trimuris, Trimuris II, Baudi, Kasonaweja, Murumere, Marinapalen, Mataweja, Kosata, Biarameso, Bagusa, warembori dan manaunaweja, yang dijemput dan di drop oleh salah seorang personel berinisial SK yang semuanya di kumpulkan di Kampung Soaseso.

“pendropan dari daerah Yapen Waropen dilakukan oleh Fernando Worabay sampai ke Tanjung Durfile dan dari sana ke Kapeso oleh SK”, katanya menambahkan bahwa ia berada bersama – sama dengan rombongan yang di drop ke Kapeso itu.

Informan Bintang Papua tersebut juga menjelaskan bahwa sebenarnya kegiatan pendudukan Lapangan Terbang Kapeso serta pengibaran bintang kejora selama sebulan itu tidak di setujui oleh Richard Hans Yoweni, karena ia menuturkan bahwa sesampainya di Kapeso, ada 9 orang yang di utus oleh Decky Imbiri untuk menjemput dua petinggi TPN – OPM yakni Richard Hans Yoweni dan Alex Makabori di Kampung Subu, namun selama seminggu 9 orang tersebut menanti kedatangan kedua petinggi TPN – OPM tersebut tidak muncul – muncul akhirnya seorang utusan Decki Imbiri mendatangi mereka dan di suruh kembali ke Kapeso.

Sesampainya 9 orang ini di Kapeso kebetulan ada pesawat terbang yang datang, dan kembali Decky Imbiri mengirim utusan 2 orang ke Jayapura untuk menemui dua petinggi TPN – OPM, setelah menunggu 1 minggu, kedua utusan tersebut kembali dan mengabarkan bahwa kedua petinggi tersebut tidak mau mengikuti kegiatan tersebut, dan saat itu juga Decky Imbiri langsung mengambil alih pimpinan di Kapeso bersama Erik Manatori dan Cosmos Makabori, dan tepatnya Minggu, 3 Mei 2009 pukul 06.00 WIT berkibarlah “bintang kejora” di Lapter Kapeso dan di mulailah drama pendudukan Lapter Kapeso selama sebulan lebih.

Keterlibatan Decki Imbiri sebagai “dalang” pendudukan Lapter Kapeso 3 Mei 2009 lalu itu dibenarkan oleh Kapolda Papua Irjenpol FX Bagus Ekodanto dan Juru Bicara Polri Irjenpol Abubakar Nataprawira ketika itu, dimana keduanya menegaskan bahwa Decki Imbiri adalah eks anggota TNI dari Batalyon 751 BS Sentani yang telah desersi berpangkat Prajurit Satu (Pratu), namun ketika itu kedua petinggi Polri tersebut tidak menyimpulkan keterkaitan antara kasus Lapter Kapeso dengan beberapa peristiwa yang terjadi sebelumnya termasuk dugaan penyanderaan 17 penumpang speedboat Ishaak Petrus Muabuay apalagi kasus pembunuhan Pdt. Zeth Krioman.

Namun pengakuan salah seorang keluarga korban yang bertandang ke Redaksi Bintang Papua di Kotaraja Selasa (7/6) setelah membaca pemberitaan koran ini, bahwasanya pasca penyergapan oleh Brimob dan Tim Densus 88 di Kapeso, Polda Papua memanggil beberapa keluarga korban untuk mengenali beberapa temuan barang – barang pribadi yang di duga milik korban penyanderaan, diantaranya ada celana dalam, BH dan beberapa barang lainnya yang ditemukan di sekitar lokasi Lapter Kapeso, dan saat itu beberapa keluarga korban mengenali bahwa itu adalah barang – barang pribadi korban.

Penuturan informan Bintang Papua dan temuan Polda Papua atas sejumlah barang – barang pribadi di area sekitar Lapter Kapeso memperkuat pengakuan Niko Aronggear seperti yang tertuang dalam laporan Tim Pencari Fakta (TPF) Dirwasnas Kesbangpol Kemendagri yang telah di muat dalam tulisan ini edisi pertama.

Dimana Niko Aronggear menjelaskan bahwa saat terjadi peristiwa Kapeso Berdarah dimana kelompok Decki Imbiri melakukan penyanderaan Bandara Kapeso dan pengibaran Bintang Kejora selama hampir sebulan lebih, saat terjadi penyerbuan oleh pasukan Brimob, dirinya berada di bawah tiang bendera bersama seorang pendeta berinisial DM, yang mana menurut pengakuannya saat penyerbuan pasukan Brimob itu para sandera ada bersama kelompok Decki Imbiri di wilayah Kapeso, setelah ada penyerbuan maka para sandera dengan tangan terikat di belakang di bawa keluar dari Kapeso dengan berpindah – pindah tempat sampai berada di Markas TPN PB – OPM Wilayah Yapen Waropen – Mamberamo.

Sanggahan keterlibatan kelompok TPN – OPM dalam kasus dugaan penyanderaan 17 penumpang speedboat seperti yang di kemukakan oleh beberapa pihak salah satunya Wakil Ketua Komnas HAM Perwakilan Papua Matius Murib bisa jadi benar, karena ada upaya “dalang” dari keseluruhan peristiwa ini, Decki Imbiri untuk “mengajak” kedua petinggi TPN-OPM masuk ke dalam skenario yang sudah ia rancang entah atas inisiatif sendiri atau pesanan kelompok lain, tapi nampaknya semua rancangan Decki Imbiri tidak di setujui oleh kedua petinggi TPN – OPM Richard Hans Yoweni dan Alex Makabori.

“saya tahu bagaimana Panglima Yoweni punya perjuangan, dia tidak akan pernah mau menodai dengan tindakan – tindakan seperti itu, main uang, sandera, dan sebagainya, karena saya tahu pasti itu bukan rancangannya, dan TPN – OPM tidak terlibat jauh ke dalam peristiwa itu, namun bisa jadi inisiatif Decki Imbiri Cs sendiri atau ada kepentingan lain yang menggerakkannya, ini yang harus di ungkap oleh polisi, supaya tidak asal main tuduh dan mengkambing hitamkan TPN-OPM terus”, komentar salah seorang informan Bintang Papua yang mengaku dekat dan mengenal sosok Richard Hans Yoweni maupun Alex Makabori dengan baik.

Terkait dua tahun lamanya para sandera masih bertahan di dalam hutan atau dimanapun berada, bukanlah hal yang mustahil, mengingat pengakuan beberapa keluarga korban bahwa dalam speedboat tersebut terdapat miliaran uang, belum lagi informasi yang berhasil di peroleh TPF Dirwasnas Kesbangpol Kemendagri bahwa ada kegiatan supply bahan makanan (BAMA) maupun obat – obatan dari Serui ke tempat yang belum terlacak, bisa menjadi dasar mengapa sandera maupun pelaku masih bertahan.

Dan bila dikaitkan dengan sepucuk surat bertanggal 18 Januari 2011 yang di kirimkan oleh Leonard Sayori yang ditujukan kepada Ketua Mahkamah Konstitusi di Jakarta, dan surat dengan nomor : 01/VIII-F/MIL/SM/pang-Dgv.II.PNP/2010 tertanggal 10 November 2010 yang ditujukan langsung ke Presiden RI di Jakarta dari Thadius Jhoni Kimema Jopari Magaiyogi yang mengklaim dirinya sebagai Panglima TPN PB Devisi II Makodam Pemka IV Paniai merangkap Anggota Dewan Revolusioner Papua Barat Melanesia Nation yang kedua surat tersebut isinya terkait hasil Pemilukada di Kabupaten Mamberamo Raya, kuat dugaan serangkaian peristiwa yang terjadi di Mamberamo Raya sarat konspirasi serta rekayasa dan bukan murni “kerjaan” kelompok TPN-OPM. Tugas polisi dan pemerintah untuk mengungkap itu semua. (Selesai)

Posted via email from SPMNews' Posterous

Wednesday, 8 June 2011

Ada Rekayasa dan Konspirasi Dibalik Menghilangnya Speedboat dengan 17 Penumpang di Perairan Mamberamo Raya 2 Tahun Silam (Bag. 1)

TENGGELAM ATAU DISANDERA TPN – OPM ?

Dua tahun lalu, 3 Mei 2009 sebuah speedboat yang di tumpangi Kabag Umum Kabupaten Mamberamo Raya Isak Petrus Muabuay dengan 16 penumpang lainnya dinyatakan hilang di perairan Mamberamo Raya, namun hingga kini bangkai maupun barang – barang pribadi ke-17 penumpang tidak pernah ditemukan, kecuali sebuah speedboat kosong yang konon ditumpangi mereka ditemukan terdampar di pesisir perairan Hamadi. Ada upaya pembiaran dan aroma konspirasi yang melibatkan sejumlah “orang penting” di Mamberamo Raya dengan melibatkan kelompok TPN-OPM. Oleh : Walhamri Wahid Perempuan tua itu kini seperti orang senewen, siang dan malam selama dua tahun terakhir ini hati dan pikirannya tidak pernah lepas dari sosok sang anak tercinta, Natalia Rumbiak salah satu pencari kerja yang berada satu speedboat dengan Kabag Umum Kabupaten Mamberamo Raya Isak Petrus Muabuay dan 15 penumpang lainnya yang hingga kini tidak jelas rimbanya. Setelah hampir dua tahun lebih coba di sembunyikan, dan dianggap sebagai kecelakaan murni akibat alam yang tidak bersahabat saat itu, kini secara perlahan peristiwa yang menimpa 17 penumpang speedboat yang bergerak dari Serui menuju ke Kasonaweja dan dikhabarkan menghilang di perairan sekitar Kampung Bonoi – Poiwai daerah perbatasan antara Kabupaten Yapen dan Mamberamo mulai terkuak secara perlahan dan memberi satu harapan baru bagi para keluarga bahwa masih ada yang hidup dari ke-17 penumpang itu, dan di duga kuat mereka sebenarnya bukan hilang karena tenggelam di gulung ombak, namun mereka di sandera oleh kelompok TPN – OPM yang beroperasi di kawasan tersebut. Dugaan masih hidupnya para penumpang dan diyakini mereka saat ini tengah di sandera oleh TPN-OPM berawal dari sepucuk surat bertanggal 18 Januari 2011 yang di kirimkan oleh Leonard Sayori yang ditujukan kepada Ketua Mahkamah Konstitusi di Jakarta Surat Leonard Sayori itu di perkuat dengan surat bernomor : 01/VIII-F/MIL/SM/pang-Dgv.II.PNP/2010 tertanggal 10 November 2010 yang ditujukan langsung ke Presiden RI di Jakarta dari Thadius Jhoni Kimema Jopari Magaiyogi yang mengklaim dirinya sebagai Panglima TPN PB Devisi II Makodam Pemka IV Paniai merangkap Anggota Dewan Revolusioner Papua Barat Melanesia Nation. Kedua surat tersebut juga sampai ke tangan Direktur Kepwaspadaan Nasional (Dirwasnas) Direktorat Jenderal (Ditjen) Kesbangpol Kementerian Dalam Negeri di Jakarta yang di tindak lanjuti dengan membentuk sebuah Tim Pencari Fakta (TPF) yang mencoba melakukan penelusuran terhadap informasi tersebut. TPF bentukan Dirwasnas tersebut akhirnya melakukan sejumlah kontak dengan kelompok TPN – OPM dengan perantaraan beberapa pihak termasuk salah satunya di fasilitasi oleh Leonard Sayori, dimana via telepon Kamis, 17 February 2011 sekitar pukul 11.30 WIB saat masih di Jakarta Leonard mencoba menghubungi Nikanor Aronggear yang diklaim menjabat sebagai Panglima TPN - OPM Wilayah Yapen Waropen – Mamberamo yang kebetulan sedang berada di Kota Jayapura. Dalam pembicaraan telepon tersebutlah, Nikanor Aronggear mengungkapkan tentang peristiwa penyanderaan 17 penumpang speedboat yang menurutnya hingga kini masih hidup dan akan dilepaskan bila permintaan mereka yang merupakan janji salah satu pasangan calon Pilkada Kabupaten Mamberamo Raya yang kini telah ditetapkan sebagai Bupati Mamberamo Raya periode 2010 – 2015 memberikan sejumlah uang kepada mereka ditepati. Berawal dari kontak via telepon Jakarta – Jayapura itulah akhirnya Dirwasnas menugaskan salah seorang staff-nya bertolak ke Jayapura untuk bertemu dengan Nikanor Aronggear guna meminta keterangan lebih lengkap. Dan dua hari kemudian, 19 February 2011 sekitar pukul 13.00 WIT bertempat di Tanjung Marine Hamadi – Kota Jayapura Niko Aronggear membeberkan rentetan sejumlah peristiwa yang terjadi selama ini di Kabupaten Mamberamo Raya salah satunya peristiwa penyanderaan 17 penumpang speedboat tersebut. Dalam laporan tertulis TPF bentukan Dirwasnas yang diterima oleh Bintang Papua terungkap bahwa Niko Aronggear mengaku di panggil khusus oleh Leonard Sayori ke Jayapura untuk memberikan kesaksian. “pertama, saya dan anak buah di suruh menyandera speedboat Ishak Petrus Muabuay yang datang dari Serui menuju Kasonaweja karena dia adalah Kabag Umum Pemkab Mamberamo Raya yang mengetahui penggunaan keuangan Pemkab Mamberamo selama ini, saya sandera mereka ada 9 orang, perempuan dan laki – laki, ada nama Pak Fredy, Selina, Ibu Manado (kemungkinan yang dimaksud dengan Ibu Manado adalah salah seorang pencari kerja yang ikut dalam rombongan bernama Imroatul Khasanah - Red) dan saya sudah bunuh 7 (tujuh) orang jadi sekarang tinggal 2 (dua) orang yaitu Pak Fredy sekarang ada di tempat Ona Patiasina dan Ibu Manado di tempat Jesya Murib, mereka hanya menunggu perintah dari saya untuk bunuh binatang dua ini” kata Niko Aronggear langsung kepada staff khusus TPF Dirwasnas ketika itu. Untuk meyakinkan Staff Khusus Dirwasnas di tengah – tengah perbincangan di Pantai Marine Hamadi 4 bulan lalu itu, Niko Aronggear meminta dibelikan pulsa dan menelpon seseorang. “ini perintah dari Komandan, dan bilang kepada isteri saya untuk kasih makan itu binatang Fredy dan coba lihat dan bilang kepada anak buah, kalau minum mabuk, tidak boleh memperkosa itu perempuan, kasihan dia biarkan saja”, ujar Niko di telepon memberikan instruksi kepada seseorang di ujung telepon, dimana seperti pengakuan Staff Khusus Dirwasnas saat itu Niko Aronggear datang di temani 5 orang anak buahnya dan di dampingi Ajudannya yang dikenali bernama Tanasirem. Masih dalam pertemuan itu, Niko Aronggear mengaku bahwa speedboat yang di tumpangi Ishak Petrus Muabuay dan 16 penumpang lainnya di tenggelamkan di derah Danau Rawa Kangkung hutan di wilayah Mamberamo. Niko Aronggear juga menjelakan bahwa saat terjadi peristiwa Kapeso Berdarah dimana kelompok TPN – OPM melakukan penyanderaan Bandara Kapeso dan pengibaran Bintang Kejora selama hampir sebulan lebih, saat terjadi penyerbuan oleh pasukan Brimob, dirinya berada di bawah tiang bendera bersama seorang pendeta berinisial DM, yang mana menurut pengakuannya saat penyerbuan pasukan Brimob itu para sandera ada bersama kelompok TPN-OPM di wilayah Kapeso, setelah ada penyerbuan maka para sandera dengan tangan terikat di belakang di bawa keluar dari Kapeso dengan berpindah – pindah tempat sampai berada di Markas TPN PB – OPM Wilayah Yapen Waropen – Mamberamo. Masih dalam laporan tertulis TPF Dirwasnas yang diperoleh salinannya oleh Redaksi Bintang Papua, Niko Aronggear mengatakan bahwa Bupati Kabupaten Mamberamo Raya (Demianus Kyeu Kyeu, SH) harus bayar Rp. 5 Milyard kepadanya karena aksi penyanderaan tersebut serta beberapa peristiwa lainnya menjelang Pemilukada di Mamberamo Raya merupakan instruksi dari yang bersangkutan. Namun tudingan dan isi kedua surat tersebut di bantah keras oleh Bupati Kabupaten Mamberamo Raya Demianus Kyeu Kyeu, SH kepada Bintang Papua via ponsel Perwira Penghubung (Pabung) Kodim Mamberamo Raya Kamis, 5 Mei 2011, Bupati menjelaskan bahwa surat dan sejumlah isu yang di hembuskan oleh beberapa pihak merupakan ekses dari sisa – sisa pelaksanaan Pemilukada yang telah selesai, dan itu merupakan upaya – upaya dari lawan politiknya yang belum bisa menerima kekalahan. “Itu kejahatan kemanusiaan bila saya terlibat dengan peristiwa penyanderaan 17 penumpang speedboat, dan bila ada yang bisa membuktikan bahwa benar – benar ke- 17 penumpang itu masih hidup, Pemda pasti akan melakukan upaya penyelamatan, ini merupakan tindakan penyerangan terhadap wibawa pemerintahan, saya memang ada di minta ketemu dengan beberapa orang yang mengaku utusan maupun staff dari Kesbangpol Kemendagri, tapi kalau memang mereka datang dengan tujuan tugas resmi, kenapa tidak menggunakan jalur resmi, menyurat resmi, saya melihat ada kepentingan lain di balik isu ini semuanya”, tegas Demianus di ujung telepon. Ketika ingin di konfirmasi lebih lanjut terkait beberapa hal, Bupati menjanjikan kepada Bintang Papua dalam waktu 2 – 3 har ke depan dirinya atau orang kepercayaannya akan turun ke Jayapura menemui wartawan untuk menjelaskan dan meluruskan tudingan itu semua. Namun hingga kini belum ada keterangan resmi tambahan dari Bupati ataupun orang kepercayaannya seperti yang dijanjikan, bahkan ketika Bintang Papua mencoba mengkonfirmasi beberapa kali lewat dua nomor handphone Bupati, hingga berita ini dinaikkan tidak bisa dihubungi. Dan Minggu (5/6) kemarin, lewat Ajudannya Bintang Papua mencoba meminta tolong untuk dijembatani melakukan konfirmasi tambahan kepada Bupati, namun kurang mendapat respon dari Ajudan yang balik menanyakan wartawan memperoleh nomor teleponnya dari mana, dan ia hanya menjalankan tugas bahwa setiap orang yang mau berurusan dengan Bupati harus di ketahui identitasnya. Terkait peristiwa penyanderaan ini, Kapolda Papua Irjenpol Bekto Soeprapto melalui Kabidhumas Kombespol Wachyono menjelaskan bahwa untuk membentuk Tim Khusus guna menelusuri kembali kebenaran informasi penyanderaan itu dan keberadaan para sandera kini pihaknya tidak bisa bertindak gegabah dan serta merta, namun harus menunggu surat resmi dan pemberitahuan dari Kemendagri bila benar hal tersebut sudah di laporkan ke Kemendagri. Direktur Kewaspadaan Nasional (Dirwasnas) Dirjen Kesbangpol Kemendagri di Jakarta, Widyanto P, SH, M.Si menjawab pertanyaan Bintang Papua via SMS menjelaskan selama ini pihaknya masih mencoba melakukan upaya – upaya persuasif untuk menyelesaikan masalah ini, dan pihaknya sudah beberapa kali mencoba ingin bertemu dengan Bupati Mamberamo Raya secara langsung maupun melalui perantara Staff Khusus yang ditugaskan ke Jayapura tapi tidak diterima. “berdasarkan pengakuan tersangka, keterangan beberapa pihak, dan hasil penyelidikan kami selama ini”, jawabnya singkat via SMS ketika ditanya apa bukti dan alasan mendasar baginya yang merasa yakin para korban benar – benar di sandera dan bukan hilang tenggelam di gulung ganasnya ombak. Menindak lanjuti statement Kabidhumas Polda Papua dalam pemberitaan Harian Bintang Papua edisi Jumat, 3 Juni 2011 lalu dalam berita dengan judul “2 Tahun Kecelakaan Speedboat di Mamberamo Masih Misterius”, dimana Kabidhumas menjelaskan bahwa apabila keluarga korban mengirim surat kepada Mendagri bukan kewenangan polisi, kecuali bila ada surat tembusan dari Kemendagri kepada kepolisian barulah pihaknya menindaklanjuti upaya pencarian korban ditanggapi secara tertulis oleh Staff Khusus Dirwasnas yang juga sebagai Ketua Tim Pencari Fakta bentukan Dirwasnas Kesbangpol Kemendagri, Eny Tan. Menurutnya Dirwasnas Kesbangpol Kemendagri mengetahui adanya kecelakaan speedboat di Mamberamo berdasarkan 3 (tiga) surat yang diberkan oleh utusan masyarakat pada tanggal 17 February 2011 di Jakarta yakni surat Leonard Sayori ke Mahkamah Konstitusi, sebuah surat yang ditujukan kepada Tuan – Tuan Panglima OPM Wilayah Mamberamo yang di atasnya bertanggal 4 September 2010 (tanggal surat tulis tangan, sedangkan isi surat diketik komputer-Red) yang di bagian akhir surat tertera Mengetahui Bupati Mamberamo Raya lengkap dengan tanda tangan dan stempel Bupati Kabupaten Mamberamo Raya dan surat Panglima TPN – OPM PB Divisi II Makodam Pemka IV Paniai yang ditanda tangani oleh Thadius Magaiyogi. Berdasarkan surat – surat dimaksud Dirwasnas Kesbangpol Kemendagri melakukan penyelidikan dan melakukan upaya persuasif baik terhadap Bupati Mamberamo Raya maupun terhadap TPN – OPM namun hingga kini belum membuahkan hasil untuk upaya pembebasan para sandera dimaksud. “sangat disayangkan bila Polda Papua bilang tidak mengetahui dugaan peristiwa penyanderaan ini dan masih menunggu surat tembusan dari Kemendagri, karena masalah ini terjadi merupakan satu rangkaian dengan beberapa masalah yang muncul menjelang Pemilukada di Mamberamo Raya dan rencana audit KPK terhadap penggunaan APBD 2008/2009 Mamberamo Raya yang tidak jelas, dan sudah dilakukan pemeriksaan terhadap Penjabat Bupati ketika itu baik oleh BPK/BPKP maupun Polda Papua”, kata Eny Tan dalam surat tertulisnya yang di terima Redaksi Bintang Papua Sabtu kemarin. Dan menurutnya seyogyanya Polda Papua sudah lebih awal mengetahui dan melakukan pencarian maupun penyelidikan terhadap saksi – saksi dan beberapa pihak yang diduga sebagai pelaku antara lain : Jhon Tanaty yang kini telah mendekam di LP Serui dengan dakwaan pembunuhan terhadap Pdt. Krioman (Ketua Panwaslu Kabupaten Mamberamo Raya) yang di duga adalah saksi kunci orang – orang yang terlibat dalam peristiwa penyanderaan speedboat dimaksud. .(bersambung) Daftar 17 Penumpang Speedboat yang Hilang di Perairan Mamberamo 2 Tahun Lalu 1). Ishak Petrus Muabuay, 2). Brigpol Ayub Karubaba, 3). Rahmania, 4). Ferdiyanto Sunur, 5). Atika Saraswati, 6). Yuliana Muay, 7). Gerson Wanggai, 8). Maikel Kawari, 9). Lambert Wanggai, 10). Tonny Fonataba, 11). Jack Karubaba, 12). Guntur Tarobi, 13). Waryono Waromi, 14). Dhopi Reba, 15). Natalia Rumbiak, 16). Ema Samori, 17). Imroatul Khasanah

Posted via email from SPMNews' Posterous