Papua Merdeka News

Papua, Irian Jaya, Western New Guinea News Feeder

Telp:+675-78213007 (WA)
Email: tofreemalensia@gmail.com
Mail. Mail: 635 Vision City, NCD, POM,Papua New Guinea
Showing posts with label Puncak Jaya. Show all posts
Showing posts with label Puncak Jaya. Show all posts

Monday, 16 August 2021

Terungkap Indikasi Kepentingan Ekonomi dalam Serangkaian Operasi Militer Ilegal di Intan Jaya

Suara Papua / Suara Papua / 14 minutes ago

SIARAN PERS

Tiga tahun terakhir pengerahan kekuatan militer Indonesia secara ilegal di kawasan pegunungan tengah Provinsi Papua telah memicu eskalasi konflik bersenjata antara TNI-POLRI dan TPNPB, serta kekerasan dan teror terhadap masyarakat sipil terutama di Kabupaten Intan Jaya. Analisis spasial mengungkapkan bagaimana letak pos militer dan kepolisian berada di sekitar konsesi tambang yang teridentifikasi terhubung baik secara langsung maupun tidak langsung dengan para jenderal.

Hal itu terungkap dalam laporan “Ekonomi-Politik Penempatan Militer di Papua: Kasus Intan Jaya” yang diluncurkan hari ini oleh YLBHI, WALHI Eksekutif Nasional, Pusaka Bentala Rakyat, WALHI Papua, LBH Papua, KontraS, JATAM, Greenpeace Indonesia, Trend Asia, bersama #BersihkanIndonesia (Baca laporan di sini: https://s.id/SiaranPersKajianIntanJaya).

Para peneliti melakukan kajian cepat terkait operasi militer ilegal di Papua dengan menggunakan kacamata ekonomi-politik. Kajian ini juga memperlihatkan indikasi relasi antara konsesi perusahaan dengan penempatan dan penerjunan militer di Papua dengan mengambil satu kasus di Kabupaten Intan Jaya.

Namun operasi ilegal itu, justru memantik eskalasi konflik bersenjata, memperparah teror bagi masyarakat sipil, dan menambah deretan kekerasan negara di Papua. Sedikitnya 10% penduduk Sugapa, ibukota Kabupaten Intan Jaya mengungsi, termasuk 331 perempuan dan anak-anak di awal tahun 2021. April lalu, Pemerintah Republik Indonesia resmi melabeli kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) sebagai teroris. Pelabelan tersebut menjadi pintu masuk legalisasi operasi militer dan penambahan pasukan.

“Ketidakjelasan status akan situasi keamanan di Papua terus memberi celah bagi negara utk melakukan sekuritisasi, seperti membangun pos-pos atau markas/kantor militer dan penurunan pasukan baik Polri maupun TNI. Padahal, berbagai pengalaman menunjukkan pendekatan keamanan tidak menjawab permasalahan sistemik di Papua yang mengalami kesenjangan akses kebutuhan primer, kerusakan sumber daya alam, dan masalah kebebasan sipil,” kata Rivanlee Anandar dari KontraS.

Intan Jaya merupakan satu dari empat kabupaten di pegunungan tengah Papua yang menjadi lokasi pembentukan Komando Distrik Militer (Kodim) baru. Kodim baru Intan Jaya terletak di ibukota kabupaten yaitu Distrik Sugapa. Tidak diketahui berapa jumlah aparat militer, baik organik dan non-organik yang berada di Papua, khususnya di wilayah Pegunungan Tengah. DPR Papua sendiri sempat menyampaikan bahwa mereka kesulitan mendapatkan data dan informasi terkait jumlah pasukan non organik yang dikirim ke Papua setiap tahun, bahkan menurut DPR Papua, Gubernur Papua, Lukas Enembe juga tidak mengetahui jumlahnya.

Asfinawati dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI) mengatakan masalah transparansi pengerahan pasukan berakar dari operasi militer ilegal. Pasal 7 (2) b dan (3) UU 34/2004 tentang Tentara Nasional Indonesia mewajibkan operasi militer selain perang dilaksanakan berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara. Termasuk di dalam operasi militer selain perang ini antara lain adalah mengatasi gerakan separatisme bersenjata, mengatasi pemberontakan bersenjata, mengamankan wilayah perbatasan atau mengamankan objek vital nasional yang bersifat strategis. Hingga saat ini tidak terdengar adanya keputusan politik negara ini.

Made Supriatma dalam risetnya menyebut bahwa rasio penduduk dan personel keamanan per kapita adalah 97:1. Artinya, ada satu polisi atau tentara untuk setiap sembilan puluh tujuh orang Papua. Rasio ini menunjukkan bahwa konsentrasi pasukan keamanan di Papua jauh lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lainnya dengan rasio 296:1, artinya 1 personel keamanan untuk setiap 296 warga negara.

“Pengerahan pasukan menyebabkan eskalasi konflik senjata semakin tinggi, akibatnya masyarakat di beberapa kabupaten Puncak Jaya, Nduga, Intan Jaya mengungsi meninggalkan tanah leluhur, tindakan bantuan pemerintah kepada pengungsi sangat minim bahkan cenderung mengabaikan kondisi pengungsi,” ujar Tigor Hutapea dari Yayasan Pusaka Bentala Rakyat.

Sementara itu, ada empat perusahaan di Intan Jaya yang teridentifikasi dalam laporan ini yakni PT Freeport Indonesia (IU Pertambangan), PT Madinah Qurrata’Ain (IU Pertambangan), PT Nusapati Satria (IU Penambangan), dan PT Kotabara Miratama (IU Pertambangan). Dua dari empat perusahaan itu yakni PT Freeport Indonesia (PTFI) dan PT Madinah Qurrata’Ain (PTMQ) adalah konsesi tambang emas yang teridentifikasi terhubung dengan militer/polisi termasuk bahkan dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan.

Setidaknya ada tiga nama aparat yang terhubung dengan PTMQ. Mereka adalah Purnawirawan Polisi Rudiard Tampubolon, Purnawirawan TNI Paulus Prananto, dan Purnawirawan TNI Luhut Binsar Panjaitan (LBP). Rudiard Tampubolon merupakan komisaris PTMQ, bahkan West Wits Mining (pemegang saham MQ) menganggap bahwa kepemimpinan dan pengalaman Rudiard cukup berhasil menavigasi jalur menuju dimulainya operasi pertambangan. Selain duduk sebagai komisaris, perusahaan yang dipimpin Rudiard yakni PT Intan Angkasa Aviation juga mendapat 20% kepemilikan saham di PT Madinah Qurrata’ain.

Dalam Darewo River Gold Project, West Wits Mining juga membagi sejumlah 30% saham kepada PT Tobacom Del Mandiri (TDM). Presiden direktur TDM ialah Purnawirawan TNI Paulus Prananto. Di sebuah terbitannya, West Wits Mining jelas menyebut bahwa TDM bertanggung jawab terkait izin kehutanan dan terkait keamanan akses ke lokasi proyek. TDM merupakan bagian dari PT Toba Sejahtera Group, dimana pemilik saham minoritasnya adalah Luhut Binsar Panjaitan. Dua purnawirawan TNI yang terkait dengan perusahaan MQ, Paulus Prananto dan Luhut Binsar Panjaitan, merupakan anggota tim relawan (Bravo Lima) pemenangan Presiden Joko Widodo pada 2014 dan 2019.

Nur Hidayati dari WALHI Eknas mengatakan, sebagaimana disebut oleh LIPI ada empat akar masalah konflik kekerasan di Papua dan itu seharusnya bisa diselesaikan oleh negara (Lihat LIPI-Temukan-Empat-Akar-Masalah-di-Papua) . Pertama, pengakuan atas masyarakat Papua itu sendiri. Ketiadaan pengakuan sendiri berujung pada diskriminasi, ini terlihat dari proyek-proyek ekstraktif yang masuk ke Papua tanpa konsultasi dan meminta persetujuan masyarakat Papua. Kedua, pendekatan proyek pembangunan mercusuar yang telah gagal memenuhi kebutuhan mendasar yang dibutuhkan masyarakat Papua, yaitu pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat.

“Proyek-proyek infrastruktur yang ada sekarang ini, sebetulnya melayani siapa? Kami mengidentifikasi, berdasarkan salah satu laporan WALHI, justru terdapat 39 perusahaan yang mendapatkan keuntungan secara langsung dari pembukaan proyek Trans Papua. (Baca: analisis-pengaruh-rencana-pembangunan-proyek-prioritas-jalan-trans-papua). Sementara akar masalah yang ketiga adalah kontradiksi sejarah dan konstruksi identitas politik, serta tidak belajarnya rezim sekarang dengan kegagalan pendekatan kekerasan yang dilakukan oleh rezim sebelumnya,” ujar Nur Hidayati.

Dalam kasus rencana tambang emas di Blok Wabu, kajian cepat ini mencatat terdapat lima aparat militer (TNI/POLRI). Kelima nama tersebut berasal dari tiga nama entitas perusahaan yang berbeda, tetapi masih satu naungan di bawah holding perusahaan tambang Indonesia yaitu MIND ID. Dalam entitas PTFI sebagai perusahaan pemilik konsesi sebelumnya di Blok Wabu, ada nama Purnawirawan TNI Hinsa Siburian (HS) sebagai komisaris PTFI. Pada 2015-2017, HS pernah menjabat sebagai Pangdam XVII/Cenderawasih Papua. HS juga tercatat tergabung dalam tim relawan (Cakra 19) pemenangan Presiden Jokowi pada 2019.

Perusahaan yang ditunjuk untuk menggarap lahan konsesi PTFI (Blok Wabu) yang dikembalikan ke Pemerintah Indonesia adalah PT ANTAM. Kajian cepat ini mencatat ada dua nama aparat militer di ANTAM yakni Purnawirawan TNI Agus Surya Bakti dan Komisaris Jenderal Polisi Bambang Sunarwibowo. Di ANTAM, Agus Surya Bakti menjabat sebagai Komisaris Utama, sementara Bambang Sunarwibowo merupakan Komisaris. Di samping itu, Bambang Sunarwibowo juga tercatat masih aktif menjabat sebagai Sekretaris Utama Badan Intelijen Nasional. Sementara di tubuh MIND ID ada nama Purnawirawan TNI Doni Monardo sebagai Komisaris Utama dan Purnawirawan Muhammad Munir sebagai Komisaris Independen. Sampai saat ini, Muhammad Munir juga tercatat berkiprah sebagai Ketua Dewan Analisa Strategis Badan Intelijen Negara.

Temuan tersebut menjadi indikasi terdapatnya kepentingan ekonomi di balik serangkaian operasi militer ilegal di Intan Jaya. Nama-nama aparat militer yang muncul pun tidak sembarangan. Beberapa terdidik di kesatuan Kopassus yang terkenal cukup elit di tubuh TNI. Beberapa punya latar belakang atau pengalaman di Badan Intelijen Negara. Ada pula yang setelah purna tugas berkiprah di dunia politik dengan menjadi tim pemenangan presiden yang berkuasa saat ini, Joko Widodo.

“Berdasarkan Peraturan Kepolisian 3/2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2017 Tentang Pemberian Bantuan Pengamanan Pada Objek Vital Nasional dan Objek Tertentu, pemberian bantuan pengamanan sebagaimana dilaksanakan berdasarkan pada permintaan pengelola Obvitnas dan/atau Objek Tertentu. Oleh karena itu keterlibatan tersebut memperkuat indikasi adanya konflik kepentingan,” kata Asfinawati.

“Penguasaan wilayah konsesi industri pertambangan yang dilakukan oleh berbagai perusahaan di wilayah konflik telah melanggar hak-hak orang asli Papua sebagai pemilik tanah adat. Penguasaan tanpa mendapat persetujuan masyarakat Adat untuk menentukan pilihan terbaik, dalam berbagai kasus masyarakat adat yang tidak setuju mendapatkan stigmatisasi dan labelisasi anti pembangunan hingga pelaku separatis. Pengerahan kekuatan militer bertujuan menciptakan ketakutan bagi masyarakat adat untuk meninggalkan tanah adatnya,” tambah Tigor dari Yayasan Pusaka Bentala Rakyat.

Jakarta 12 Agustus 2021

The post Terungkap Indikasi Kepentingan Ekonomi dalam Serangkaian Operasi Militer Ilegal di Intan Jaya appeared first on Suara Papua.

Visit website

Sunday, 13 December 2020

The TPNPB News: TNI MASUK DISTRIK AGANDUGUME DI TEMPAT-TEMPAT MASYARAKAT.


Ilaga 12/12/2020.12:00 malam. Saya ada kirim laporan pada tanggal 09-12 empat hari berturut dua helicopter dorop pasukan TNI di distrik Agandugume dengan Ilaga .

Pasukan TNI di distrik Agandugume tempat pendoropan pasukan DAGAGOBME dua kali, mata air kali balim dua kali, kepala air ayuneri dua kali, kepala air ayunekime dua kali, ongwendo dua kali . Itu tempat-tempat aktifitas masyarakat kamu anggota TNI kenapa turun disitu?

Itu kamu cari apa tikus, binatang bukannya kemaring kamu Anggota TNI bunuh masyarat 6 orang mati dan yang satu dirawat dengan kondisi sangat kritis.

Sudah lama anggota TNI/POLRI kamu tembak masyarakt selalu sembunyikan dan yang lain taruh senjata di badan mereka foto di bilang itu anggota TPNPB, tapi sekarang semua ketahuan.
Dan Pimpinan militar negara dan militer kamu kirim pasukan ke Papua untuk bunuh rakyat?
Kalau itu benar sesuai dengan kondisi di seluruh Wilayah papua maka kamu keliru dan tidak ada rasa kemanusian.
Kalau mau kejar TPNPB turun di kabupanten kami ada di kota kami akan lawan namu kenapa turun di hutan, kata lekagak
Komandan Operasi Nasional
Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB)
Mayjend Lekagak Telenggen
_______________________________
Awak media The TPNPB News

Monday, 22 August 2016

Legislator: Stop Jual Rakyat Dengan Stigma OPM untuk Jabatan

Jayapura, Jubi – Legislator Papua, Deerd Tabuni mengingatkan para pihak yang ada di wilayah pegunungan tengah Papua, khususnya Puncak Jaya tak melakukan berbagai manuver untuk kepentingan jabatan, termasuk mengklaim berhasil membuat para anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) di wilayah itu turun gunung. Ia mengatakan, jangan menjual rakyat demi kepentingan jabatan dan materi. Aparat kemanan juga […]

from WordPress http://ift.tt/2bWz6J8
via IFTTT

Thursday, 28 May 2015

Kapolda: Tangkap Pelakunya, Hidup Atau Mati

JAYAPURA – Kepolisian Daerah Papua menyiapkan sebanyak 70 personil Brimob untuk melakukan pengejaran terhadap kelompok sipil bersenjata (KSB), Yambi pimpinan Tengahmati Telenggen yang diduga keras sebagai pelaku penembakan terhadap 6 warga sipil di kampung Usir, Distrik Mulia, Puncak Jaya, Selasa (26/5/2015) malam. Kepala Kepolisian Daerah Papua, Inspektur Jenderal Polisi mengatakan, penembakan terhadap enam warga sipil […]

from WordPress http://ift.tt/1LLv8Kh
via IFTTT

Penembakan di Puncak Jaya 1 Tewas, 5 Luka

JAYAPURA – Kota Mulia, Ibu Kota Kabupaten Puncak Jaya memanas. Enam warga sipil dilaporkan ditembaki oleh Kelompok Sipil Bersenjata (KSB). Satu orang warga sipil tewas dan lima orang lainnya luka akibat penembakan di Mulia, Kabupaten Puncak Jaya-Papua, pada Selasa (26/5/2015) malam sekitar pukul 23.00 WIT Keenam korban penembakan tersebut, diantaranya Pengga Enumbi (31 thn) mengalami […]

from WordPress http://ift.tt/1Azo4Pw
via IFTTT

Thursday, 12 June 2014

Ada Senjata Buatan China di Tingginambut?

SINYALEMEN kepolisian bahwa selama ini TPN/OPM di kawasan pegunungan khususnya di Puncak Jaya dan sekitarnya mempersenjatai diri mereka selain dengan senjata hasil rampasan dari anggota TNI/Polri, juga di duga ada pasokan senjata ilegal yang di selundupkan dari Filipina melalui jalur laut kembali di sampaikan oleh Kodam XVII/Cenderawasih. Kapendam XVII Cenderawasih, Letkol (Inf) Rikars Hidayatullah melalui […]



from WordPress http://ift.tt/1qxufKB

via IFTTT

Tuesday, 21 January 2014

Pelakunya Kelompok Yambi Pimpinan Goliath

Suasana Telekomfrence antara Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Christian Zebua didampingi Kasdam XVII/Cenderawasih, Brigjen TNI Hinsa Siburian bersama Sejumlah Pejabat teras, Senin (20/1) kemarin siang.Pangdam Soal Pelaku Penyerangan Pos TNI di Mulia JAYAPURA– Panglima Kodam XVII/Cenderawasih, Mayor Jenderal TNI, Christian Zebua memastikan, penyerangan Pos Komas Kodim unit intel Kodim 1714/PJ Kota Lama Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, […]



from WordPress http://ift.tt/Kug7T0

via IFTTT

Wednesday, 15 January 2014

OPM Akui Ambil 8 Senjata

JAYAPURA – Tentara Pembebasan Nasional – Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM), melalui Sekretaris Jenderal. Anton Tabuni, menyampaikan bahwa pihaknya sama sekali tidak gentar dan takut setelah merebut 8 pucuk senjata milik Polisi di Distrik Kulirik, Kabupaten Puncak Jaya, Sabtu (4/1) lalu. “Tanggal 3 dan 4 itu kami operasi dan berhasil rebut senjata delapan, dan semua itu […]



from WordPress http://ift.tt/1dOmZSu

via IFTTT

Saturday, 11 January 2014

Marinus : Pelaku Penembakan bukan TPN-OPM

Marinus YaungJAYAPURA - Pengamat Politk dari Universitas Cenderawasih, Marinus Yaung, menegaskan bahwa pelaku penembakan di Mulia, Puncak Jaya, bukanlah kelompok TPN-OPM sebagaimana yang ramai diberitakan saat ini. “Penembakan warga sipil dan pesawat di Puncak Jaya bukan dari kelompok TPN-OPM pimpinan Goliat Tabuni. Karena pimpinan TPN-OPM di wilayah pegunungan tengah sudah memahami perkembangan masalah Papua di […]



from WordPress http://papuapost.com/2014/01/marinus-pelaku-penembakan-bukan-tpn-opm/

via IFTTT

Friday, 10 January 2014

Penembakan di Puncak Jaya Sering dilakukan oleh Remaja dan ANak Sekolah

Jayapura 08/01 (Jubi) – Aksi penembakan terhadap warga sipil maupun penyerangan Pos Sub Sektorat Kulirik, Polres Puncak Jaya hingga mengakibatkan seorang warga sipil meninggal dunia dan 8 pucuk senjata milik Polri hilang, ditanggapi Wakil Bupati Puncak Jaya, Yustus Wonda. Dirinya menuturkan bahwa aksi penembakan di Mulia, Kabupaten Puncak Jaya diduga sering dilakukan para remaja yang […]



from WordPress http://papuapost.com/2014/01/penembakan-di-puncak-jaya-sering-dilakukan-oleh-remaja-dan-anak-sekolah/

via IFTTT

Densus 88 dan BNPT Mandul Hadapi Teroris OPM

PAPUA_DAKTACOM: Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali membuat ulah dengan menyerang pos polisi sub sektor Kulirik, Puncak Jaya, Papua. Para penyerang dari anggota Organisasi Papua Merdeka juga merampas 8 senjata milik polisi. Penyerangan yang terjadi sekitar pukul 16.00 WIT, Sabtu pada tanggal 4 Januari 2014 itu dilakukan ketika pos dijaga 2 orang personel Polri. Penyerang dari […]



from WordPress http://papuapost.com/2014/01/densus-88-dan-bnpt-mandul-hadapi-teroris-opm/

via IFTTT

Monday, 6 January 2014

OPM Serang Pos Polisi

JAYAPURA—Setelah puasa beberapa saat, Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali bikin ulah. Kali ini sejumlah 20 orang kelompok sipil bersenjata ini melakukan aksi penyerangan di Sub Sektor Kulirik, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua, Sabtu (4/1) pukul 16.00 WIT. Dari data yang berhasil dihimpun, sekelompok orang dengan menggunakan senjata api dan tajam, tiba-tiba mendatangi Pos […]



from WordPress http://papuapost.com/2014/01/opm-serang-pos-polisi/

via IFTTT

Thursday, 8 August 2013

TNI Dituding KNPN Sebagai Pelaku Penembakan Relawan PMI di Puncak Senyum, Puncak Jaya

Jayapura, 07/8 (Jubi) – Siapa pelaku penembakan di Puncak Senyum, Puncak Jaya tanggal 31 Juli lalu masih terus menjadi bahan saling tuding. 

Sebagaimana dirilis media ini sebelumnya, Kepolisian Daerah Papua menuding pihak TPN-OPM dibawah kendali Puron Wenda sebagai pelaku penembakan tersebut. Namun Teryanus Sato, Kepala Staf Umum TPNPB- OPM dalam siaran pers yang diterima Jubi, Senin (5/8) lalu, membantah keterlibatan TPN-OPM sebagai pelaku penembakan tersebut. Sato menuding TNI/Polri yang melakukan penembakan tersebut dan merencanakan skenario untuk berdalih pelaku penembakan adalah kelompok sipil bersenjata di Puncak Jaya. 

Komite Nasional Papua Barat (KNPB), organisasi yang selama ini gigih memperjuangkan referendum bagi Papua Barat juga menuding TNI/Polri sebagai pelaku penembakan tersebut. Melalui rilis pers yang diterima Jubi, Rabu (07/08) malam, KNPB mengatakan dari kronologis penembakan yang dihimpun langsung maupun yang dipublikasikan diberbagai media massa, tampak indikasi pelaku penembakan adalah TNI/Polri. Indikasi tersebut adalah :

1. Relawan PMI dipanggil TNI ke Tingginambut 
2. Saat itu TNI tidak menggunakan kendaraan TNI untuk antar pasien berobat. 
3. TNI “sengaja” tidak melakukan pengkawalan terhadap ambulans. 
4. TNI menjadikan relawan orang Papua sebagai korban skenario. 
5. Kejadian penembakan dilakukan tidak jauh 100 meter dari Pos TNI. 
6. Bila dilakukan TPN-OPM, pasti sasarannya Pos TNI yg jarak tembaknya terjangkau dekat (100 m). 
7. TPN-OPM tidak mungkin lakukan penembakan terhadap sipil, apalagi sesama orang Papua. 
8. TNI menjadikan relawan PMI sebagai korban skenario agar perjuangan Papua Merdeka dan TPN OPM tercoreng di internasional dan hukum internasional. 
9. Media pers lokal maupun nasional dibayar guna mengabarkan tuduhan kepada TPN-OPM. 
10. TNI akan memimpin investigasi, dengan demikian semua tau bahwa hasilnya pasti menuduh TPN dan menyembunyikan TNI. 
11. Skenario ini adalah pra-kondisi yang dilakukan TNI dalam menyambut delegasi MSG ke Papua. 
12. Bahwa Pimpinan TPN selama ini meminta agar TNI/Polri menghargai hukum humaniter (hukum perang) yaitu tidak membunuh sipil, wartawan, para medis apalagi Palang merah. 
13. Pihak korban telah mengaku bahwa penembakan itu dilakukan TNI. (Jubi/Victor Mambor)

Wednesday, 7 August 2013

HANYA DUA KELOMPOK BERSENJATA DI PUNCAK JAYA | tabloidjubi.com

HANYA DUA KELOMPOK BERSENJATA DI PUNCAK JAYA | tabloidjubi.com

Jayapura, 6/8 (Jubi) – Kepolisian Daerah (Polda) Papua memetekan kelompok bersenjata yang ada di Wilayah Puncak Jaya, Papua. Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol I Gede Sumerta Jaya mengatakan, hanya ada dua kelompok bersenjata di wilayah tersebut yakni kelompok Goliat Tabuni (GT) dan Puron Okinam Wenda (POW atau PW).

“Di Puncak Jaya dan sekitarnya hanya ada dua kelompok bersenjata yakni GT dan POW atau PW. Hanya saja jaringan ini memiliki kelompok kecil yang ada di bawa mereka. Misalnya saja kelompok yang dipimpinan Leka Telenggen, itu dibawah komando GT. Namun Kelompok GT dan POW sendiri tidak satu garis komando. Mereka berjalan masing-masing. Tidak bersama meski keduanya mengusung ideologi kemerdekaan. Hanya saja kita masih mempertanyakan, apakah mereka berjuang murni ideologi atau tidak,” kata I Gede, Selasa (6/8).

Menurutnya, Goliat Tabuni tidak ingin berada di bawa komando Puron Wenda begitupula sebaliknya Puron Wenda tidak ingin berada di bawa Goliat Tabuni. Wilayah operasi Goliat Tabuni adalah Tinggi Neri dan sekitarnya. Sementara Puron Wenda di wilayah Filia sekitar bukit Puncak Senyum.

“Salah satu akar masalah penyerang Polsek Pirime adalah POW ingin membuktikan jika dia bisa melakukan atau beroperasi tanpa bantuan GT karena saat itu GT sedang mendeglarasikan diri sebagai Panglima Tunggal. Dua orang yang ditembak oleh anggota TNI lalu itu anggota PW dan didapati sedang membawa senjata. Ternyata senja itu milik Almarhum Kapolsek Dominggus Awes. Artinya keduanya selain memegang senjata ilegal juga terlibat penembakan terhadap Almarhum Dominggus Otto Awes 2011 lalu,” ujarnya.


Dikatakan, kelompok Porun Wenda lebih brutal karena ekstensinya agar memiliki bargening dan ingin menunjukkan keberadaanya. Puron Wenda ingin membuktikan kepada Goliat Tabuni jika kelompoknya juga bisa beregerak sendiri.

“Rambo juga ada dua. Ada Rambo dari kelompok POW dan ada juga Rambo dari kelompok GT. Rambo kan hanya julukan. Kalau ada pertanyaan kenapa Puncak Jaya ribut terus, ya karena dua kelompok ini yakni GT dan PW masih eksis. Kalau kedua kelompok ini masih eksis masalah Puncak Jaya tidak akan selesai dan caranya, kita melakukan pendekatan pesuasif. Kalau kita mau penyergapan besar-besaran kita bisa dipilntir lagi melanggar HAM. Keduanya punya wilayah masing-masing. GT memiliki maksimal 10 senjata dan PW 16 senjata. Senjatanya biasa saj, hanya saja mereka menang medan. PW yang pegang senjata arsenal dan itu yang digunakan saat penyerangan Polsek Pirime lalu,” tandas I Gede.

Sementara itu Direktur Baptis Voice Papua, Matius Murib mengatakan, dirinya prihantin dengan aksi penembaka terhadap ambulance lalu yang menewaskan tiga warga sipil.

“Pelaku harus ditangkap agar semua jelas, siapa yang ada dibalik itu semua karena korban adalah masyarakat sipil. Kapolda merespon baik hal ini. Ketiga orang yang menjadi korban penembakan itu adalah warga sipil yang berprofesi sebagai manteri,” kata Matius Murib. (Jubi/Arjuna)
Enhanced by Zemanta

Tuesday, 6 August 2013

Kejar Pelaku Penembakan Satu Peleton Brimob Dikirim ke Puncak Jaya

Kejar Pelaku Penembakan Satu Peleton Brimob Dikirim ke Puncak Jaya

TIMIKA—Pelaku penembakan yang menyebabkan tewasnya seorang tenaga medis dan melukai dua lainnya di Mulia, Puncak Jaya masih terus dikejar. Untuk mengejar pelaku yang diduga dari kelompok sipil bersenjata ini, aparat keamanan diperkuat/ditambah.

Ya, satu peleton personel Brigade Mobil Kepolisian Daerah Papua dikirim ke Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, dengan menggunakan helikopter MI-17 TNI AD, Kamis (1/8/2013). Mereka ditugaskan mengejar pelaku penembakan ambulans RSUD Puncak Jaya di kawasan Puncak Senyum, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, pada Rabu (31/7/2013). Penembakan itu menewaskan satu orang dan melukai beberapa orang lainnya.

“Hery Nyoman (sebelumnya diduga bernama Erik Yoman) yang meninggal dunia rencananya dimakamkan di Mulia, sementara dua petugas kesehatan yang terluka tembak harus dievakuasi untuk mengeluarkan proyektil peluru di RSUD Dok II Jayapura,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Papua Kombes Pol I Gde Sumerta, Kamis (1/8/2013) sebagaimana dilansir kompas.com.

Mereka yang terluka adalah petugas RSUD Puncak Jaya, Darson Wonda (27) dan Frits Baransano (42). Darson adalah sopir ambulans, yang mengalami luka tembak di lengan kiri. Sementara Frits adalah tenaga medis, mengalami luka tembak di lengan dan rusuk kanan. Sementara itu, imbuh Sumerta, kondisi Kota Mulia saat ini sudah kembali kondusif.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, pada Rabu siang, sekitar pukul 14.10 WIT telah terjadi penembakan terhadap mobil ambulans RSUD Puncak Jaya. Ambulans ditembaki kelompok bersenjata tidak dikenal di daerah Puncak Senyum dalam perjalanan kembali ke Kota Mulia usai menjemput pasien di Kampung Urgele, Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya. (binpa/don/l03)

Enhanced by Zemanta

Sunday, 4 August 2013

DPRP Sorot Kinerja Intelejen di Papua

DPRP Sorot Kinerja Intelejen di Papua

Ruben Magay:  Mereka  Selalu  Menyebut  Semua Pelaku  Penembakan dan Kekerasan OTK

Ruben MagayJAYAPURA - Jika Pembela Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua, Mathius Murib mendesak agar Kapolda Papua Irjen (Pol) Drs. M. Tito Karnavian, M.A., P.hD.,  mengungkap motif dan pelaku aksi penembakan yang diduga dilakukan Kelompok Sipil Bersenjata terhadap 3 tenaga medis dari RSUD  Mulia, maka lainnya halnya dengan pihak DPRP.

DPRP melalui Komisi A yang membidangi Bidang Politik Hukum dan HAM, justru menyoroti kinerja intelejen TNI/Polri di Papua yang dinilai buruk.

Salah satu indikasinya bahwa setiap ada peristiwa penembakan selalu menyebut pelakunya orang tidak dikenal (OTK).

Padahal lanjutnya, pasukan dan intelejen yang disebar di Papua lebih dari cukup, tapi hingga kini kinerja mereka nihil. Padahal dana yang dialokasikan untuk   penanganan keamanan angkatnya sangat fantasis.
Hal ini diiungkapkan Ketua Komisi  A Bidang  Politik, Hukum dan HAM DPRP Ruben Magai, S.I.P., di Kantor DPRP, Jayapura, Jumat (2/8).

Menurut Politisi Partai  Demokrat ini, kinerja intelejen GTGNI/Polri dipertanyakan.
“Semua  Orang Tak Dikenal (OTK) dan tidak ada yang  diungkap dan tidak ada yang merasa memberikan rasa keadilan kepada  pihak korban,” tambahnya.

Dikatakan Politisi Partai Demokrat ini, masih terus adanya aksi penembakan terhadap warga sipil  maupun aparat keamanan, terakhir aksi penembakan  3 tenaga medis dari RSUD Mulia masing-masing Heri Yoman (32), dilaporkan tewas dan 2 perawat lainnya Darson Wonda (27) dan Fritz Baransano (42) menderita luka berat, ketika mobil ambulance  yang membawa  pasien diduga ditembaki Kelompok Sipil Bersenjata di Puncak Senyum, Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, Rabu(31/7) sekitar pukul 14.30 WIT.

 Dikatakan kasus-kasus semacam ini harusnya bisa diungkap oleh pihak intelejen kita, jangan sampai ujung-ujungnya hanya berakhir dengan suatu kesimpulan kalau pelakunya adalah OTK  alias orang tidak dikenal.(Mdc/Don/l03)
Enhanced by Zemanta

Kejar Pelaku Penembakan Satu Peleton Brimob Dikirim ke Puncak Jaya

Kejar Pelaku Penembakan Satu Peleton Brimob Dikirim ke Puncak Jaya

TIMIKA—Pelaku penembakan yang menyebabkan tewasnya seorang tenaga medis dan melukai dua lainnya di Mulia, Puncak Jaya masih terus dikejar.  Untuk mengejar pelaku yang diduga dari kelompok sipil bersenjata ini, aparat keamanan diperkuat/ditambah.

Ya, satu peleton personel Brigade Mobil Kepolisian Daerah Papua dikirim ke Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, dengan menggunakan helikopter MI-17 TNI AD, Kamis (1/8/2013). Mereka ditugaskan mengejar pelaku penembakan ambulans RSUD Puncak Jaya di kawasan Puncak Senyum, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, pada Rabu (31/7/2013). Penembakan itu menewaskan satu orang dan melukai beberapa orang lainnya.

“Hery Nyoman (sebelumnya diduga bernama Erik Yoman) yang meninggal dunia rencananya dimakamkan di Mulia, sementara dua petugas kesehatan yang terluka tembak harus dievakuasi untuk mengeluarkan proyektil peluru di RSUD Dok II Jayapura,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Papua Kombes Pol I Gde Sumerta, Kamis (1/8/2013) sebagaimana dilansir kompas.com.

Mereka yang terluka adalah petugas RSUD Puncak Jaya, Darson Wonda (27) dan Frits Baransano (42). Darson adalah sopir ambulans, yang mengalami luka tembak di lengan kiri. Sementara Frits adalah tenaga medis, mengalami luka tembak di lengan dan rusuk kanan. Sementara itu, imbuh Sumerta, kondisi Kota Mulia saat ini sudah kembali kondusif.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, pada Rabu siang, sekitar pukul 14.10 WIT telah terjadi penembakan terhadap mobil ambulans RSUD Puncak Jaya. Ambulans ditembaki kelompok bersenjata tidak dikenal di daerah Puncak Senyum dalam perjalanan kembali ke Kota Mulia usai menjemput pasien di Kampung Urgele, Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya. (binpa/don/l03)
Enhanced by Zemanta

Thursday, 1 August 2013

Pelakunya Diduga Kelompok Pilia

English: Benny Wenda at the IPWP launch Русски...
English: Benny Wenda at the IPWP launch Русский: Бенни Венда, председатель Ассаблеи Котека (Photo credit: Wikipedia)
Pelakunya Diduga Kelompok Pilia

JAYAPURA - Aksi penembakan kembali terjadi di Puncak Senyum Puncak Jaya Papua, Rabu 31 Juli sekitar pukul 14.10 WIT. Kelompok sipil bersenjata memberondong mobil ambulans yang sedang mengevakuasi warga yang sakit. Akibatnya 1 orang tewas. Pelaku diduga adalah kelompok sipil yang bermarkas di Pilia Kabupaten Lany Jaya.

“Dugaan kami, kelompok pelaku adalah GPK Pilia, tapi itu masih didalami dengan melakukan penyelidikan,”ujar Juru Bicara Kodam XVII Cenderawasih Kolonel Lismer Lumban Siantar saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya.

Jika memang dugaan pelaku adalah kelompok Pilia, maka komandannya adalah Puron Wenda.  Akhir tahun lalu ia  mengklaim sebagai pelaku penyerangan terhadap Polsek Pirime Kabupaten Lany Jaya. Klaim itu juga dibenarkan oleh Goliat Tabuni Komandan OPM yang bermarkas di Tingginambut.

Menurut Goliat Tabuni ketika itu,  Puron Wenda adalah bekas anak buahnya. Namun, sudah tidak satu komando lagi sejak Kabupaten Lany Jaya terbentuk. Puron Wenda sudah keluar dari kelompok Goliat Tabuni bersama sejumlah anggota lainnya. Mereka kemudian membentuk Kodap (Komando Daerah Operasi) sendiri yang namanya Kodap Pilia.

Masih kata Goliat ketika itu, Puron Wenda sudah berafiliansi ke Matias Wenda penglima OPM yang bermarkas di Victoria Perbatasan RI-PNG.  “Puron tidak lagi dibawah komando saya, dia sekarang anggotanya Matias Wenda,”ungkap Goliat Tabuni.

Puron Wenda menyerang Polsek Pirime saat itu, untuk menunjukan eksistensi kelompoknya. Sekaligus menunjukan kekuatan mereka ada di Lany Jaya.

Dalam sebuah percakapan melalui telepon selule, Puron Wenda juga membenarkan bahwa dirinya tidak lagi satu komando dengan Goliat Tabuni. “Kami sudah keluar dari kelompok Goliat Tabuni, dan sekarang berdiri sendiri,”tegas dia kala itu.

Puron Wenda mengklaim, dirinya dan sejumlah rekannya memutuskan keluar dari Kelompok Goliat Tabuni, karena tidak sepaham dan satu ide lagi tentang perjuangan Papua Merdeka. “Goliat Tabuni sekarang sudah bagian dari pemerintah Indonesia, dia tidak lagi berjuang untuk kemerdekaan Papua, itulah alasan kami keluar dan membentuk kelompok sendiri,”tandasnya.

Puron juga mengaku telah merekrut ratusan pemuda untuk bergabung dalam kelompoknya.
Puron juga mengklaim bertanggung jawab atas penyerangan Polsek Pirime. “Kami yang serang dan kami juga akan masuk ke Tiom ibukota Lany Jaya,”ucap dia kala itu.

Bila memang Puron Wenda sudah membentuk Kodap baru Pilia di Lany Jaya, kenapa dia masuk ke Tingginambut yang nota bene markas Goliat Tabuni dan kemudian melakukan penyerangan terhadap mobil Ambulans. Apakah ini untuk menunjukan kekuatan mereka kepada sang Jenderal Goliat Tabuni.
Puron Wenda saat dihubungi  telepon selulernya tidak aktif. Begitupun selulernya Goliat Tabuni.(Jir/Don/l03)
Enhanced by Zemanta

Di Mulia : 3 Tenaga Medis Ditembak, 1 Tewas

Nepenthes maxima near Puncak Jaya, Western New...
Nepenthes maxima near Puncak Jaya, Western New Guinea (~2600 m asl) (Photo credit: Wikipedia)
Di Mulia : 3 Tenaga Medis Ditembak, 1 Tewas

JAYAPURA—Aksi penembakan  terhadap  warga  sipil kembali  terjadi di Mulia, Kabupaten Puncak Jaya. Kali ini korbannya tiga tenaga medis di RSUD Mulia mengakibatkan satu diantaranya  bernama Heri Yoman  (32), tewas dan 2 perawat  lainnya yakni Darson Wonda (27) dan Fritz Baransano (42) karena menderita luka berat.

Peristiwa ini terjadi, ketika mobil ambulance  yang membawa  pasien bernama Kiriman Wonda  (60) ditembakiKelompok Sipil Bersenjata  di Puncak Senyum, Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, Papua,  Rabu (31/7) sekitar  pukul  14.30 WIT.

Kabid Humas Polda Papua Kombes (Pol) I  Gede Sumerta Jaya, SIK yang  dikonfirmasi

membenarkan pihaknya telah  menerima laporan, pada Rabu (31/7)  sekitar  pukul 14.30 WIT mobil ambulance diduga  ditembaki  Kelompok Sipil Bersenjata, mengakibatkan tiga  orang mengalami luka   tembak. Masing-masing Heri Yoman tewas dengan luka tembak pada pipi kanan kena gigi, rusuk kiri pas susu. Darson Wonda luka tembak pada lengan tangan kiri. Fritz Baransano luka tembak pada rusuk  kanan dan tangan kanan.

Dijelaskan Kabid, pihaknya belum  mengetahui motif  dan pelaku penembakan dari kelompok mana, karena masih melakukan penyelidikan. Namun,  pihaknya segera mengirim Tim  Investigasi ke TKP, guna menyelidiki lebih lanjut motif dan pelaku penembakan tersebut.

“Saat ini  jenasah sedang  berada di RSUD Mulia, untuk dilakukan otopsi sementara proyektil  yang masih  bersarang di tubuh korban. Tapi belum tahu kalibernnya,”  kata Kabid yang ditemui saat acara buka puasa bersama Kapolda Papua  dan Insan Pers Media Cetak dan Elektronik di Kota Jayapura di Restoran Bagus Pandang, Dok II, Jayapura, Rabu (31/7) petang.

Kabid menambahkan pihaknya terus melakukan pengejaran terhadap para pelakunya.

Detail kronologis aksi penembakan ini, menurut Kabid, pada pukul 11.20 WIT 3 orang anggota mendatangi UGD RSUD Mulia untuk meminta  bantuan mobil ambulance dan tenaga medis  guna menjemput pasien gawat di Distrik Tingginambut. Tapi, pada saat  kembali  dari Tingginambut tepatnya di Camp Urgele (100 Meter dari Pos TNI Puncak Senyum) sekitar  pukul 14.30 WIT mobil ambulance diduga ditembaki Kelompok Sipil Bersenjata, mengakibatkan tiga  orang mengalami luka   tembak. Masing-masing Heri Yoman tewas dengan luka tembak pada pipi kanan kena gigi, rusuk kiri pas susu. Darson Wonda luka tembak pada lengan tangan kiri. Fritz Baransano luka tembak pada rusuk  kanan dan tangan kanan.

Pasca kejadian, Kabid menjelaskan, rombongan Kapolres Puncak Jaya dan para korban sampai di UGD RSUD Mulia pada pukul 15.15 WIT. Dimana  ditemukan bekas tembakan pada mobil terdapat  5  titik lubang  peluru, 4 titik lubang peluru pada kaca depan kemudi dan 1 titik lubang  peluru  pada  talang  pintu depan sebelah kanan atas. Nomor Polisi Kendaraan Ambulance 5800 PJ. Identitas pasien yang dievakuasi  dari Distrik Tingginambut  atas nama  Kiriman Wonda   dan saksi-saksi Etsida Wonda (27), Onisi Wonda (30). (mdc/don/l03)
Enhanced by Zemanta

Sunday, 14 July 2013

“Kalau Ada yang Bicara Merdeka, Saya Paling Tak Setuju”

Minggu, 14 Juli 2013 15:47, BintangPapua.com
http://bintangpapua.com/index.php/lain-lain/k2-information/halaman-utama/item/6656-%E2%80%9Ckalau-ada-yang-bicara-merdeka-saya-paling-tak-setuju%E2%80%9D

Gubernur Saat Melantik 4 Anggota MRP PAW

JAYAPURA - Gubernur Provinsi Papua Lukas Enembe, SIP, MH mengatakan,  jika ada yang berbicara tentang merdeka, maka dirinya paling tidak setuju,  karena  akibat dari hal itu menyebabkan rakyat menjadi korban, sementara  rakyat masih tertinggal,  rakyat di gunung-gunung dan pulau-pulau tidak memiliki rumah dan lain sebagainya.   Untuk itu, yang harus dibicarakan adalah berbicara kesejahteraan, karena orang Papua harus dibangun dan terus ditingkatkan kemandirian dan kesejahteraan hidup mereka di segala aspek kehidupan.

“Kami berkomitmen untuk itu, harapan saya Tuhan memberikan hikmat dan akal budi bagi kita semua. Saya ajak rakyat Papua untuk bersatu untuk kembali membangun Papua, itu lebih penting dari pada kita berjuang dengan tidak bersatu dan tidak damai,” ungkapnya saat  Pelantikan Anggota MRP PAW di Gedung Negara, Jumat, (12/7).

Ditambahkan,  “Saya bilang ke anggota DPR RI bahwa mereka yang berseberangan dengan kita dan yang tinggal di hutan, saya siap berkomunikas dengan mereka. Tapi kalau mereka yang berseberangan dengan berpakaian berdasih, itu yang saya tidak mampu,” sambungnya.
 Sebagaimana diketahui kemarin, sebanyak 4 anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) di lantik oleh Gubernur Papua, Lukas Enembe,SIP, MH. Keempat anggota MRP tersebut adalah hasil dari pergantiaan antar waktu (MRP) yang meninggal dan yang mengundurkan diri dari jabatannya.
   Mereka  yang dilantik diantaranya, Salomina Yaboisembut, S.Ag mengantikan Agus Olua. Maria Christina Ireeuw menggantikan Hana Hikoyabi. Maria Kambirok menggantikan Maria Magdalena Kaise. Dan Imanuel Geningga, B.Th, menggantikan Pdt. Yosias Gire.

  Gubernur Papua, Lukas Enembe,SIP, MH, mengatakan, kedepannnya MRP akan diberikan kewenangan juga untuk mengatur, mengurus dan menata pelaksanaan kegiatan pembangunan di masyarakat sebagaimana amanat UU No 21 Tahun 2001 yang dipergunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Papua.

  “UU Otsus ada yang sudah laksanakan, tapi ada juga yang belum bisa kita laksanakan. Oleh sebab itu sejak saya dan Klemen Tinal dilantik bersama DPRP dan MRP bertemu dengan Presiden SBY untuk rekonstruksi UU No 21 Tahun 2001,” jelasnya.